Bulan
selalu setia mengikuti jejak bumi, mengikuti bumi hanya untuk satu visi. Menerangi
malam untuk kegalauan hati, tapi ini tak untuk hari esok, cukup malam ini saja
aku habiskan waktuku untuk merenungkan kesalahan yang telah aku perbuat selama
ini, membiarkan rasa itu tumbuh n berkembang hari demi hari, yang tak seharusnya
aku membiarkan hal itu terjadi.
Barangkali nanti, saat hariku benar-benar kehilangan
keberadaanmu, taman bunga melati di dalamnya yang dipenuhi aneka rupa kupu-kupu
kan berangsur menjadi padang rumput yang dipenuhi semak belukar. Berkabut
sepanjang hari, dibasahi hujan sepanjang tahun. Barangkali. Atau bisa lebih
mengerikan dari itu.
Hidup
itu… seperti halnya jalan. Tidak selalu lurus. Tidak melulu mulus. Ada
lubang-lubang yang menghadang. Ada turunan, juga tanjakan. Kadang memutar,
seolah-olah kita masih berada di titik awal. Juga berkelok-kelok dengan banyak
persimpangan. Dan harus kita pilih belok ke arah yang mana.
Begitu
juga hidupku. Yang kini telah sampai pada sebuah persimpangan. Sebuah pilihan.
Di salah satu belokan, ku dihadapkan pada pilihan untuk terus menantimu.
Menanti mu yang sepertinya tak mungkin akan bersamaku. Tapi entah kenapa aku
selalu dan tak lelah mengharapkan itu.
Di
belokan lainnya, ada pilihan untuk membuka lembaran baru perjalanan hidupku.
Yaitu dengan meninggalkanmu, yang sebenarnya tak bisa ku tinggalkan.
Melupakanmu, yang sebenarnya tak bisa aku lupakan. Mungkin “mustahil” adalah
kata yang tepat untuk menggambarkan ketidaksanggupanku melakukan itu.
Aku tahu
aku harus memilih. Memang, memang, aku akui aku bingung. Tak tahu mana yang
harus kupilih. Haruskah aku mengambil jalan tengah… jurang?
Pada
akhirnya, aku hanya perlu mensyukuri apa pun yang aku miliki hari ini. Walaupun
yang aku tunggu tak pernah datang.
Walaupun yang aku perjuangkan tak pernah sadar dengan apa yang aku lakukan.
Nikmati
saja. Kelak dia yang kau perjuangkan akan tau, betapa kerasnya kau
memperjuangkannya. Betapa dalamnya rasa yang kau simpan kepadanya. Dia hanya
pura-pura tidak tahu atau mungkin tidak mau tau sama sekali. Tidak usah kau
hiraukan, jika sampai hari ini kau masih memperjuangkannya, dan masih
menunggunya, tidak masalah. Tidak ada salahnya dalam memperjuangkan cinta yang
kau rasa.
Namun,
satu hal yang bisa kau renungkan. Menunggu itu ada batasnya. Dan kau akan tau
kapan harus berhenti dan memulai lagi. Meninggalkan tempat dimana kamu pernah
berjuang sepenuh hati, tetapi tak dihargai.
plg, 01.07



