Jumat, 29 April 2016

Bulan selalu setia mengikuti jejak bumi, mengikuti bumi hanya untuk satu visi. Menerangi malam untuk kegalauan hati, tapi ini tak untuk hari esok, cukup malam ini saja aku habiskan waktuku untuk merenungkan kesalahan yang telah aku perbuat selama ini, membiarkan rasa itu tumbuh n berkembang hari demi hari, yang tak seharusnya aku membiarkan hal itu terjadi.
Barangkali nanti, saat hariku benar-benar kehilangan keberadaanmu, taman bunga melati di dalamnya yang dipenuhi aneka rupa kupu-kupu kan berangsur menjadi padang rumput yang dipenuhi semak belukar. Berkabut sepanjang hari, dibasahi hujan sepanjang tahun. Barangkali. Atau bisa lebih mengerikan dari itu.
Hidup itu… seperti halnya jalan. Tidak selalu lurus. Tidak melulu mulus. Ada lubang-lubang yang menghadang. Ada turunan, juga tanjakan. Kadang memutar, seolah-olah kita masih berada di titik awal. Juga berkelok-kelok dengan banyak persimpangan. Dan harus kita pilih belok ke arah yang mana.
Begitu juga hidupku. Yang kini telah sampai pada sebuah persimpangan. Sebuah pilihan. Di salah satu belokan, ku dihadapkan pada pilihan untuk terus menantimu. Menanti mu yang sepertinya tak mungkin akan bersamaku. Tapi entah kenapa aku selalu dan tak lelah mengharapkan itu.
Di belokan lainnya, ada pilihan untuk membuka lembaran baru perjalanan hidupku. Yaitu dengan meninggalkanmu, yang sebenarnya tak bisa ku tinggalkan. Melupakanmu, yang sebenarnya tak bisa aku lupakan. Mungkin “mustahil” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan ketidaksanggupanku melakukan itu.
Aku tahu aku harus memilih. Memang, memang, aku akui aku bingung. Tak tahu mana yang harus kupilih. Haruskah aku mengambil jalan tengah… jurang?
Pada akhirnya, aku hanya perlu mensyukuri apa pun yang aku miliki hari ini. Walaupun yang  aku tunggu tak pernah datang. Walaupun yang aku perjuangkan tak pernah sadar dengan apa yang aku lakukan.
Nikmati saja. Kelak dia yang kau perjuangkan akan tau, betapa kerasnya kau memperjuangkannya. Betapa dalamnya rasa yang kau simpan kepadanya. Dia hanya pura-pura tidak tahu atau mungkin tidak mau tau sama sekali. Tidak usah kau hiraukan, jika sampai hari ini kau masih memperjuangkannya, dan masih menunggunya, tidak masalah. Tidak ada salahnya dalam memperjuangkan cinta yang kau rasa.
Namun, satu hal yang bisa kau renungkan. Menunggu itu ada batasnya. Dan kau akan tau kapan harus berhenti dan memulai lagi. Meninggalkan tempat dimana kamu pernah berjuang sepenuh hati, tetapi tak dihargai.
plg, 01.07