Minggu, 27 Desember 2015

Muhasabah di Penghujung Tahun 2015

Assalamu'alaikum para pejuang...
Sebenarnya udah dari kemarin-kemarin mau nulis, nge-post di blog, udah banyak ide di dalam otak yang ingin di tuangkan, tapi aku nya yang sok sibuk jadi males buat nulis.hehe...
Minggu, 27 Desember 2015. 4 hari lagi menuju tahun baru loh readers.. yukk aahh kita evaluasi, bermuhasabah apa-apa aja nih yang kita udah lakuin selama 1 tahun - 4 hari ini? 
Saya ingin mengulas balik apa-apa saja yang sudah terjadi di tahun ini. Tahun yang membuat saya mengerti akan banyak hal. Salah satunya adalah tentang Rezeki. Rezeki setiap orang diatur sedemikian rupa sesuai porsi masing-masing. Sebelumnya, saya menargetkan ke luar negeri di tahun 2015 (dan ternyata tidak tercapai) dan kata teman saya mungkin rezeki saya bukan tentang itu tapi tentang pencapaian target lainnya. Ya saya selalu menyediakan ruang kekecewaan itu di kala harapan itu belum terwujud, Mungkin ada saat waktu yang tepat Allah mampu mengizinkan kaki ini berpijak di belahan bumi yang lain, dan persiapan nya mungkin juga kurang maximal, mungkin.. hehe

1. Tahun 2015, aku jadi tertarik buat menulis. iya ini berkat seseorang disampingku gengs, seorang sahabat yang kehadirannya sangat dirindukan, ia dia Sang Melodi Mimpi. Hmmm Tahukah kamu Persahabatan itu gak harus ketemu bareng, harus selalu kumpul bareng, yang terpenting saling mendukung, menularkan semangat ya walaupun kadang diri sendiri tak bersemangat, dan yang terpenting nih ya mampu bertahan di antara terpaan kesibukan masing-masing. TulBetul Gak? (Ekspresi Alisnya di naik-naikin hehe)
2. Tahun 2015 adalah tahun dimana saya berjalan dalam perjalanan ilmiah lebih dari 4 provinsi. kenapa bisa dikatakan perjalanan ilmiah? karna ada tujuan untuk mengikuti final dan sekaligus jalan-jalan ke kota yang belum pernah dikunjungin. menarik bukan?? udah transportasi gratis, makan gratis, kenal dengan orang-orang yang luar biasa, jalan-jalan gratis pula..hehe hayyuukk yang lain yang suka jalan-jalan cobain perjalanan ilmiah ini, duit kita 1% pun gak keluar loh, semua dibayarin kampus. terlebih lagi nih ya kalo kamu menang uangnya bisa kamu kasih sama yang lebih membutuhkan 10% nya baru deh kamu gunain untuk keperluanmu, indah bukan? berbagi dengan hasil prestasimu sendiri.
2. Tahun 2015, aku masuk di final Duta Mahasiswa GenRe SUMSEL. sampai ke tahap final ini pun sudah sangat luar biasa gengs senangnya, proses menuju final itu wow banget, banyak perjuangan melalui batu-batu terjal, jalan yang tidak mulus seperti yang dibayangkan. aku sih minder awalnya ikut ajang kaya gituan, kebetuluan nih ya ada temen aku Juara I Duta Mahasiswa GenRe SUMSEL 2014, dia bilang "Gak usah minder, penampilan itu nomer sekian, ini bukan pemilahan bujang/gadis atau apalah itu, yang terpenting disini intelegensi, kepribadian, public speaking ruull, kamu masih bisa ko pake hijab kaya gini. gak usaah minder, maju teruss yaa" Kata-kata yang membuat semangat itu bangkit, dan harapan yang begitu tergambar jelas. Akhirnya aku ikuti tahap berkas, Wawancara, dan Persentasi. Sampe Akhirnya di Final "Unjuk Bakat".
3. Di awal tahun 2015, aku lolos setelah mengikuti OR Jurnalis Muda Tribun SUMSEL. Sebuah media ternama dan tertua di kota Palembang. aku banyak belajar tentang bidang kejurnalistikan, mengedit berita, mengsisi berita yang udah dead line besok mau di post di terbitin malam-malam ke kantor tugas numpuk chat temen belum dibalas itu udah jadi kebiasaan aku gengs yang dikejar dead line hehe ,  kita wajib tau tentang ilmu yang bukan dibidang kita loh gengs, soalnya ya orang awam kalo denger kata serjana pasti ketika mereka nanya mereka gak mau tau tuh kita harus bisa jawab pertanyaann mereka, terlebih lagi kalo kita udah jadi orang tua nih ya anak-anak rasa ingin taunya besar banget, jadi jangan sampai kamu gak bisa jawab loh gengs.. belum terlambat kok, kita sama-sama belajar ya... semangaatt para pejuang tangguhh...^^
3. Di pertengahan tahun 2015, aku mengikuti 2 event untuk bisa ke luar negeri, tapi yaaa belum rezeki, ada yang lebih pantas, dan ini bukan jatah giliranku buat kesana, mungkin nanti, pasti.. hehe
4. Di tahun 2015 ini juga aku menjadi salah satu panitia dalam acara Rapat Kerja FORMADHINA KORWIL SUMBAGSELd an anggota di FORMADHINA SUMBAGSEL ada yang dari jambi, bengkulu, padang, dll pokonya sumatera bagian selatan hehe.. dan kami rapat kerja dari pagi sampe pagi, menambah kantong mata lagi, tapi tak mengapa menjadi bagian dari mereka itu rasanya sangat beruntung dipertemukan dengan orang-orang yang hebat kaya gini.
5. Di tahun 2015, mengikuti lomba tingkat kota dibidang kepenulisan ada yang menang ada yang enggak,hehe
6. Di tahun 2015 ini juga yang aku inginkan dulu di tahun 2014,kini bisa terwujud atas seizin-Nya merih penganugrahan "Student Award" Oh Lord, begitu banyak nikmatmu di tahun 2015 ini.

Dan masih banyak hal-hal luar biasa yang sifatnya "Rahasia" yang terjadi di tahun ini. Kalau kita semua bisa merenungkan-merefleksikan diri tentang segala hal yang terjadi di tahun ini. Maka yakin tidak ada satu pun nikmat Tuhan yang bisa di dustakan.

Kalau kita terus melihat ke atas, saat orang lain sudah memiliki ini itu, mereka prestasinya luar biasa, udah bisa ke luar negeri-kitanya belum. Kita mungkin akan jatuh pada kondisi yang tidak menyenangkan. Bukankah dengan syukur, Tuhan akan menambah nikmat kepada kita?

Dan nikmat berupa ketenangan hati dan pikiran adalah nimat yang besar. Hati yang tenang tanpa rasa iri, dengki, prasangka, dan segala hal lainnya. Pikiran yang tenang tanpa keresahan dan hal lain adalah hal yang langka.

Dan tahun 2016 sudah menjelang karena saya tidak merayakan tahun baru. maka saya ingin menandainya dengan to-do-list baru hasil revisi mimpi dari tahun 2015 yang belum tercapai dan sudah dievaluasi.
Sekarang giliranmu duhai para pejuang, semangaatt terus yaa terutama buat sang melodi mimpi...
Allah dulu.. Allah Lagi... Allah Terus....



Palembang, 27 Desember 2015

Jejak Mimpi


Selasa, 22 Desember 2015

Sekilas Lantunan Nada Melodi Mimpi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo readers..

Nama saya Irfan. Lengkapnya Irfan Dary Nasution. Sudah biasa dipanggil Irfan, tapi sekarang nama panggilan saya beraneka ragam. Ada yang manggil Irfan, Dary, Dory, Tion, dan Fandary. Untuk para reader kalau mau manggil saya boleh di antara nama panggilan itu yaa :D

Saya adalah seorang mahasiswa jurusan Matematika di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Perguruan tinggi ini terkenal dengan salah satu dari banyak sebutan, yaitu Institut Pesantren Bogor. Why pesantren? Karena nuansa keislamannya yang sungguh terasa di lingkungan perguruan tinggi ini. Dan juga karena ada mata kuliah Pendidikan Agama Islam saat tahun pertama mengawali perkuliahan. Ada tempat terindah dan ternyaman di perguruan tinggi ini, dengan arsitektur bangunan yang waaaaah sungguh mengindahkan mata. Namanya Al Hurriyyah. Banyak mahasiswa yang senang nongkrong di sini sambil tilawah Al-Qur,an, mentoring, liqo, mengkaji tentang keislaman, mengadakan dauroh, mengadakan mabit, dan sebagainya kegiatan yang mendekatakan diri kepada Allah SWT.


Masjid Al Hurriyyah Institut Pertanian Bogor

Masya Allah.. indah bukan?? Main aja yaa ke IPB hehe sekarang kembali ke perkenalan. Nah saya berjurusan Matematika. Orang-orang kalau sudah mendengar Matematika pasti mind setnya langsung "wah ngitung ngitung nih", "wah bakal puyeng nih 4 tahunan di Matematika". Mungkin untuk yang passionnya bukan di Matematika dan yang belum terkena grafik-grafik cinta (grafik kordioid) dari Matematika akan memiliki mind set seperti itu, tapi bagi kami, anak Mate *sebutan Matematika kalo disingkat*, Matematika itu sebuah Seni yang menantang bro.. sis.. kenapa seperti itu?? Karena Matematika mengajarkan kita untuk berseni dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dengan memodelkannya dalam Matematika. Nah lihat tulisan yang saya garis bawahi, apa maksudnya? Menyelesaikan berbagai masalah otomatis kita anak Mate akan mempelajari kasus-kasus dalam berbagai ilmu pengetahuan, seperti biologi, kimia, fisika, ekonomi, teknologi, psikologi, dan berbagai macam ilmu lainnya. Bagi yang suka tantangan, yuk belajar Matematika :D

Wah terlalu banyak memperkenalkan perguruan tinggi dan jurusan nih. Sekarang kembali memperkenalkan diri yaa.

Saya anak sulung, laki-laki. Punya satu orang adik perempuan dan dua orang adik laki-laki. Adik perempuan saya jurusan Komunikasi. Adik laki-laki pertama kelas 2 SMA dan adik laki-laki kedua yang bungsu kelas 6 SD. Saya laki-laki yang biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial, tapi gak tau kalau orang lain menganggap saya bagaimana. Kalau mau tau saya lebih banyak bisa tanyakan saja ke jejak mimpi karena dia sudah tau banyak hal tentang saya :D Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana saya dapat selalu bermanfaat bagi orang lain dan makhluk hidup lainnya dan di mana pun saya berada tidak jadi masalah karena untuk menjadi bermanfaat itu tergantung kita, bukan tergantung lingkungan kita atau amanah kita ditempatkan ^^

Oh ya, hobi saya menulis (hmm tapi rasanya lebih menjadi editor), mendengarkan, dan memperhatikan. Untuk menulis itu saya sendiri masih banyak tantangannya. Contohnya menulis deskripsi ide satu halaman saja kadang bisa seharian, tapi walaupun begitu, saya nikmati prosesnya karena sungguh indah proses ini ^^ Menjadi pendengar dan pemerhati yang baik adalah pekerjaan yang paling saya sukai. Kenapa?? Karena dengan itu saya dapat tahu berbagai pengalaman dan cerita hidup orang lain, mendengarkan permasalahan orang lain yang sebenarnya hanya butuh didengar dan setelah itu dia lega dan tenang sendiri, dan juga banyak inspirasi yang saya dapatkan dengan itu.

Sekarang ini saya berkecimpung di lembaga yang kerjaannya legislating, budgeting, advocating, dan monitoring organisasi kemahasiswaan di FMIPA, di gerakan sosial bidang pertanian, di organisasi kepenulisan keilmiahan, dan di sekumpulan Matematika Syariah :D

Jika berbicara soal sahabat, saya termasuk orang yang tidak mudah menganggap siapa yang memang sahabat saya. Yang pasti, ada sekumpulan sahabat yang melebihi sahabat, seperti keluarga yang tujuan kami adalah meraih ridho Allah SWT ^^ ada juga seorang yang termasuk saya kagumi, yang saya anggap partner saya dalam banyak hal, khususnya dalam menebar kebermanfaatan, dan juga ada satu lagi seorang sahabat nan jauh di sana yang belum pernah sekalipun saya bertatap muka dengannya. Seorang yang suatu saat saya ingin mengunjunginya tuk bercerita, bercanda gurau, dan menjadi pendengar yang sangat baik untuknya. Mungkin nanti ada waktunya ku dapat menemuinya.

Alhamdulillah... saya sangat bersyukur dengan kehadiran banyak orang yang sangat mencintai dan memperjuangkan da'wah Islam di manapun berada ^^

Saya adalah seorang penulis level 1, belum sampai level ratusan. Melalui blog Jejak Melodi Mimpi ini, saya akan berbagi terkait mimpi, perjalanan dalam hidup pribadi maupun lingkungan sekitar, dan khususya pemikiran-pemikiran saya dalam keseharian menghadapi perjalanan ini. Mungkin jejak mimpi akan lebih banyak sharing di blog ini dibanding melodi mimpi karena dialah yang lebih banyak akan menapaki kehidupan karena dialah jejak mimpi dan saya melodi mimpi yang akan mengiringi langkah kakinya ^^ sebenarnya tetep aja kesimpulannya kami sama-sama menapaki kehidupan :D Harapan saya semoga dengan tulisan di blog ini para reader suka dan terinspirasi ^^


Bogor, 22 Desember 2015

Melodi Mimpi

Minggu, 20 Desember 2015

Aku dan Mimpiku di Akhir Tahun 2015


          Bermimpilah, Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. (Arai -Sang Pemimpi)
          Maka     Nikmat Tuhan kamu mana lagi yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman)


"Mengikuti Lomba Karya Tulis dan Meraih Student Award di Tahun 2015". kalimat tersebut merupakan salah satu mimpi yang kuselipkan di antara kumpulan mimpi. Terlihat sangat sederhana. Tetapi itu target besar bagiku, karena selama hidupku belum pernah aku mengikuti lomba karya tulis yang bersifat penelitian. Meskipun info selalu datang menghampiri tapi untuk memulai terasa berat sekali. Oleh karena itu hal tersebut kutorehkan di awal semester 5 perkuliahanku. Walau di semester 4 pernah mencoba sekali ikut dan gagal. Pernah sempat pesimis, malas untuk mencoba lagi, tapi kupikir jika berhenti sampai disini semuanya bakal selesai mimpi itupun takkan terwujud. Jadi ku tempel tulisan motivasi di meja belajar "Gagal? Berjuang lagi nuruull!!! Karna sejatinya hidup ini berjuang lalu menantikan hasilnya sambil tetap berjuang", penyemangat di kala kepesimisan itu menyerang. 

Kesempatan itu datang juga, "Sayembara Esai Nasional" demikian bunyi kompetisi tersebut. Peserta diminta mengirimkan esai sesuai dengan tema dan subtema yang dituliskan dan akan diseleksi untuk ke tahap final. Esai ini tak ada berhubungan dengan jurusan ku sedikit pun, aku pun tak mempunyai pemahaman tentang tema yang dipaparkan di pamflet itu. Karena di dorong rasa ingin mencoba yang kuat sekali. akhirnya aku setiap hari ke pusda dan browsing terkai tema yang telah ditetapkan. Saat mengerjakannya itu, aku lagi berada di kampung halaman tepatnya masih dalam liburan semester. Lomba yang bertajuk "Moeslem Culture Fair" ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam di Universitas Negeri Jakarta. Sesuai mimpi yang kutuliskan "mengikuti lomba karya tulis" dan ini lomba sesuai mimpi yang kutuliskan “mengikuti lomba karya tulis” dan ini lomba karya tulis pertama yang kuikuti ditambah tingkat nasional pula, jadi aku tidak terlalu percaya diri untuk sampai tahap final. Setidaknya aku sudah mencoba. Menghabiskan jatah gagal, selalu itu yang kukatakan. Beruntungnya, aku mempunyai keluarga dan sahabat yang luar biasa membuat harapan itu melambung tinggi kelangit.

Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Esai ku lolos ke tahap final .Subhanallah.. Sampai di sini saja rasanya luar biasa. Esai kuyang berjudul “Konsep Pembelajaran PAI Berbasis SUNAN (Sopan santun, Toleransi, dan Peduli Lingkungan) dalam Cerpen (Cerita Pendek) untuk Meningkatkan Nilai Keindonesiaan di Kalangan Pelajar” memang tidak selamanya mendapat dukungan. Di satu sisi aku dihujani dukungan semangat dan do’a kesuksesan, tetapi di sisi lain ada yang mengecilkan ku. Memang tak ada sebuah perjalanan yang mulus. Aku yang mengirimkan karya tersebut pun mengalami olahraga jantung. Bagaimana tidak, file esainya hilang entah di save dimana, dan tinggal 2 jam lagi batas pengumpulan. Sebuah SMS di penghujung petang membawa kabar gembira. Aku berhasil lolos ke tahap final di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Pertengahan September 2015. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar..!

17 September 2015. Dengan pesawat Lion  Air aku terbang ke Jakarta. Jujur, ini pengalaman pertamaku naik burung besi tersebut. Aku begitu menikmati sensasi melayang di atas awan. Tak begitu lama, sekitar lima puluh menit saja. Aku tiba di Bandara Soekarno Hatta dan dengan dijemput Om beserta anak-anak dan istrinya, beliau adik kandung ibundaku. Karena ini perjalanan keduaku ke Pulau Jawa mataku tak mau terpejam sedikitpun. Kubiarkan mata ini terlena akan melihat hal-hal yang baru.

Malam pertamaku di Jakarta Timur, Ciputat dekat dengan UIN Syarif Hidatullah apalagi pasarnya dekat sekali. Sesampainya aku disana, aku sibuk mempersiapkan power point yang akan dipresentasikan senin nanti. Kurang persiapan memang, karena ini di luar prediksi aku bisa sampai ke tahap ini karena aku sibuk dengan tugas kuliah dan laporanku yang menumpuk. Jadi, aku putuskan malam itu juga harus selesai membuat power pointnya yang semenarik mungkin, aku tak suka dengan hal yang biasa-biasa saja, semua yang aku lakukan harus terlihat perfect, mungkin itu salah satu sifat buruk ku ya. Sampai tiba kira-kira di pukul 02.15 pagi, alarm tubuh ini pun berbunyi meminta waktunya untuk beristirahat, tapi semua pekerjaanku pun sudah selesai dan sedah beberapa kali latihan presentasi. Keesokan sore tepatnya hari minggu, aku pun pergi bersama om dan keluarganya menuju wisma UNJ. Aku pun dijemput dan dijamu bagai tamu besar disana. Kamar yang begitu nyaman dan kondusif buat latihan presentasi malam itu, berkali-kali aku pelajarin materi dan latihan presentasi hingga salah satu penitia yang tidur bersamaku malam itu terbangun dan menyuruhku untuk tidur, aku pun menolak ajakannya. Lagi, lagi dan lagi aku ingin semua yang aku lakukan terlihat perfect, walau sampai titik akhir alarm itu berbunyi lagi tepat menunjukkan pukul dua pagi. Hingga keesokan paginya wajahnku tidak terlihat segar, seperti wajah orang yang sangat keletihan.

19 September 2015. Hari H itu datang juga. Pagi-pagi sekali kami menuju kampus UNJ dengan berjalan kaki karena posisi gedung yang dipakai dekat sekali dengan wisma.. Di dalam perjalanan tersebut aku gunakan untuk mengenal para peserta. Menyenangkan sekali bertemu dengan orang-orang hebat dari penjuru Indonesia. Sambil mengobrol kami menikmati jalanan suasana kota Jakarta. Saat memasuki kampus UNJ. Ada getaran di hatiku. Assalmmu’alaikum UNJ. Pernah terbesit di hatiku: aku harus menginjakkan kaki di UNJ. Dan hari ini semuanya menjadi nyata. Gedung-gedung menjulang nan megah. Pemandangan yang asri. Inikah kampus sesungguhnya ? Presentasi dilakukan di gedung Sergur (Sertifikasi Guru). Ah, lagi-lagi aku terpesona. Ruangan yang besar dan nyaman. Kursi, papan tulis, lantainya pun berbeda. Subhanallah... beruntunglah mahasiswa yang kuliah di sini. Sungguh aku gugup sekali. Namun, aku harus tampak santai. Sambil menunggu acara dimulai, kami mengobrol ringan. Urutan yang tampil diundi oleh juri. Aku maju di urutan ke lima. Waktu yang disediakan adalah 10 menit dengan jumlah slide yang saya tampilkan adalah 8 slide. Ternyata aku menuntaskan persentasi tersebut dalam waktu DELAPAN menit saja. Wow, bayangkan betapa cepatnya aku berbicara ! 

Setelah itu disambung dengan sesi tanya jawab dengan dewan juri dan beberapa peserta audience yang hadir di ruangan itu. Sungguh aku tak menyangka, sesi tanya jawab mendapatkan antusias dari dewan juri dan audience yang berada diruangan itu, sampai-sampai panitia memperingatkan untuk cukup untuk bertanya. Alhamdulillah, pertanyaan itu bisa aku jawab. Penampilan dari peserta lain luar biasa keren. Serba inovatif dan kreatif. Ide-ide nya pun cukup membuat ku tidak terlalu berharap untuk menang. “aahh tak usah berharap, sudah bisa ke tahap ini saja alhamdulillah banget” gumamku dalam hati. Setelah usai penampilan persentasi dari 10 finalis, dilanjutkan dengan acara seminar nasional dan penampilan merawis dan nasyid yang sangat luar biasa.

Hingga tibalah saatnya pengumuman, kami pun dipersilahkan naik di podium merah itu. Sebelum pengumuman dimulai, panitia berbincang-bincang bersama kami. Aku salah satu peserta terjauh disana, diminta menjawab kesan pesannya untuk panitia dan menceritakan perjalanannya bisa sampai ke Jakarta. Dengan logat yang masih kental dengan kepalembang-palembangan walau sudah memakai bahasa indonesia yang menurutku sudah benar, ada beberapa audience dan juri tertawa mendengar dan melihatku berbicara, entah dari ceritaku atau logat palembangku hehe. Usai dari obrolan kecil itu, inilah saatnya pengumuman dimulai, disebutkan juara dari belakang terlebih dahulu, hingga tersisa 4 finalis lagi yang belum mendapatkan juara. “Ya Allah aku pun mendapat harapan I sudah sangat luar biasa” Jantungku berdegub tidak seperti biasanya. Dipanggilah Juara Harapan I oke ternyata bukan saya. Tak tahan menahan haru bahagia saat itu, spontan air mata keluar begitu saja. Saat namaku dipanggil dengan mendapatkan juara III aku pun langsung sujud syukur, pandangan yang lain tertuju padaku karena aku lah salah satu peserta yang menangis dan ekspresi yang berlebihan seperti ini, semua lepas dari kontrolku saat itu. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto-foto dan yang ada hanya senyum lebar. Begitulah petang itu mengakhiri rangkaian acara tersebut. Subhanallah,Alhamdulillah, Allahu Akbar.. Saat aku menulis mimpi hanya ingin ikut lomba karya tulis, Allah memberiku lebih dari itu, sebuah kemenangan dengan pengalaman luar biasa.

20 September 2015. Selamat pagi Jakarta. Ini adalah hari terakhir ku berada disini, karena tiket pesawat jam 4 sore aku harus menunggu. Aku pun dijemput kembali dengan om dan keluarganya, aku diajaknya berkeliling jakarta. Aku pun sudah memiliki buah tangan untuk kajur, wakidekan3, sahabat, dan keluarga ku di palembang. Waktu sudah menunjukkan pukul 2.30 aku pun diantar menuju bandara, dan ternyata pesawat delay. Oh Lord, lelah. Tak bisa kutahan kantukku. Sepanjang melayang di atas awan aku hanya tertidur. Hingga saat landing pesawatnya kaya ada guncangan, aku pun terbangun, terkejut, dan spontan berterik allahuakbar dengan kencangnya. Dua orang disampingku dan beberapa orang seberang tempat duduk kami melihatku dengan ketawa, betapa malunya aku saat itu. aku panik takut terjadi apa-apa hehe. Di Bendara aku ditunggu oleh Evan sepupu ku yang kuliah di palembang, keluarga ku pun dari lubbuklinggau pergi ke palembang untuk melihat kondisi anaknya ini, ya betapa tak khawatirnya mereka aku yang belum pernah naik pesawat, mengetahui mekanismenya, sera tak tahu jalan kota jakarta yang begitu amat luas. Pulang....... Hallo Palembang, Kembali bertemu lagi kabut asap L.!!! Sebuah perjalanan ilmiah di akhir tahun 2015.

Selepas dari sana bertubi-tubi nikmat Allah menghampiri, kemarin tepat tanggal 17 Desember 2015 aaku dipanggil segera menghadap wakil dekan 3. Jantungku pun berdegub, apa yang telah aku perbuat, ada apa sosok orang penting memanggilku yang tdak ada apa-apanya ini. ku ketuk pintunya, ku ucapkan salam, ku sampaikan maaf, hingga ia pun mempersilahkan ku duduk dan memberikan ku sebuah surat untuk wali murid untuk datang di acara Student Award dan apresiasi seni, ia aku masuk di list nama yang akan mendapatkan penganugrahan itu “Student Award” dengan berdasarkan IPK dan prestasi yang telah kuberikan terhadap kampus tercinta. Sungguh aku begini semua karena Allah. Seseorang yang tampak memukau dan berkilau, bukan antas kemampuan dirinya melainkan atas seizin-Nya dan atas karunia dari Allah. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan” (QS. Ar-Rahman). Ini kekuatan bermimpi. Allah bahkan memberi lebih dari yang kuiimpikan. Bermimpilah maka Allah akan memeluk mimpi-mimpi mu. Semangat para pejuang untuk apapun yang kita perjuangkan. Dan berikut cuplikan vidio yang ku dapatkan ketika SMA, dan awal aku mempercayai kekuatan mimpi itu.









Palembang, 20 Desember 2015
Jejak Melodi Mimpi

Aku dan Pagi itu Part II

Ini lanjutan cerita kemarin yang belum usai.
"Eh emak-emak palembang ke jakarte lagi" sapaan sang teman dosen, tia.
"Iya, gimana lu sekarang?kerjaan?keluarga?" Jawab sang dosen dengan logat palembang yang masih kental.
"Udah 6 tahun di jakarta, balik palembang 3 tahun masih kental aja tuh palembangnya tak" sahut tia temennya etha. Namanya etha, ia adalah dosen psikologi klinis semester 5 ini. Aku adalah salah satu pengagum beratnya. Beruntungnya aku mendapatkan satu teman yang mengidolakannya juga. Namanya Yusika Fadilla. Anak Psikologi Islam, partnerr1 kost, dan tak 1 kelas. Setiap malam setelah mata kuliah buk etha kami selalu meluangkan waktu untuk membicarakan hal-hal yang terjadi di kelas tadi, baik itu mata kuliahnya, ceritanya, apapun itu selalu mempunyai sisi keilmuan di balik kata-kata yang keluar dimulutnya. Bu etha adalah dosen yang penuh misteri. Perkenalan pun hanya menyebutkan nama saja, semua kontak pribadi tidak boleh satu orang pun yang tau kecuali ketua kelas. Rasa penasaran itu pun tiba-tiba merasuk ke otak aku dan dia.
"Nurul wifi connect gak? Tanya yusika.
"Coba aja, mau ngapain?".
"Kita cari tentang bu etha, Rimas dian maretha, search google ok".
"Ok tampil nih, waah buk etha kuliah di UI S2 profesi psikolo klinis".
"Cari yang lain" Yusikka sibuk mengotak-atik keybord dan search google. Hingga kami terdampar di salah satu blog laki-laki bernama rimas, yang ternyata adik dari bu etha. Ia 3 bersaudara anak sulung, perempuan. Rimas adalah gabungan nama ayah dan ibunya. Tak sampai disana saja, rasa ingin tahu pun udah dibatas dosis tinggi. Setelah menunggu beberapa menit, sampailah ke situs web sang idola.
"Yusika kita kejauhan gak sih keponya?"
"Tenang aja enggak" yusika berusaha untuk meyakinkan ku.
Bu etha ternyata sudah menikah, kami memprediksikan awal tahun 2015 silam. Ia juga psikolog di beberapa biro ternama di palembang. Tak hanya sebatas bu etha saja yang kami kepoin, semua yang menyangkut dia, keluarganya, suaminya, dan teman-temannya. Oke kita lanjut lagi ke perbincangan sang dosen dan temannya tia. Tia pun langsung melanjutkan dan menjawab pertanyaan dari bu etha "keluarga gue baik ta. Ehh tau gak sih tha sekolah gue kan udah mau uas ni, datang salah satu wali murid bilang kaya gini "buk gimana nih anak aku gak mau disuruh belajar" keluhan sang wali murid.
"Tau gak lu tha gue jawab apa?" Tanya tia ke etha dengan penuh antusias untuk bercerita.
"Iya pasti lu kasih tips tuh ibuk buat ngajakin anaknya belajar lah" Jawab etha.
"Kagaak, jadi aku bilang gapapa lah buk kan wajib belajar 9 tahun, jadi masih banyak waktu buat belajar bukan? Terus dijawab wali murid gue gini tha iya juga ya buk, sambil mikir-mikir dia nya tha".
"Aah gila aja lu tia, bilang kaya gitu".
"Kamu tu yg gila tha, masa ia anak kecil 1 sd mau lu paksain buat belajar supaya nilainya bagus"
"Dia kan juga harus belajar tanggung jawab dia sebagai siswa dan anak tiaa"
"Anak kecil gitu mana tau tanggung jawab itu apa tha. Kamu tau gak tanggung jawab itu apa?".
Sang dosen pun diam dan tak melanjutkan ceritanya karena ingin bertanya kepada kami yang berada dikelas "kalian tau gak tanggung jawab itu apa?" Tanya sang dosen kepada penghuni kelas. Tiba-tiba aku spontan jawab aja dengan nada kerasnya "berusaha untuk melakukan setiap kewajibannya buuuk", entah itu jawaban yang tepat atau tidak. Sang dosen pun melanjutkan perbincangannya dengan sang teman tia.
"Eehh iya ya apa ya tanggung jawab haha".
"Nah lu aja lagi gak tau, apalagi anak yang masih kecil gitu tha. Lagian di sekolah alam itu lebih dibentuk akhlaknya bukan masalah nilainya tha".

Sang dosen pun menutup cerita perbincangannya, dan memberikan kami inspirasi dan pengetahuan baru pada pagi menjelang dzuhur waktu itu "Anak kecil SD itu waktunya bermain-main, tidak untuk selalu belajar. Coba kalian bayangkan waktu masih kecil inginnya selalu bermain bukan?disuruh belajar gak tahan dalam waktu lama bukan? Jadi nih ya kalo kamu udah punya anak jangan selalu paksa buat belajar, perkembangan anak umur segitu ya main terus jangan dipadatkan dengan belajar,belajar terus. Efekny ke masa perkembangan remaja karna tak terpenuhinya tugas perkembangan saat masih berusia 6 tahun sampai ia beranjak remaja. Lambat laun ia terus tumbuh menjadi remaja,hingga dewasa pasti sudah mengetahui arti tanggung jawab itu. Ya kalo mau nilai bagus ya belajar. Tapi tetap gak curang ya, yang dilihat tu bukan hasil tapi proses dan kejujurannya nak. Nilai tuh ya gak segala-galanya, contohnya nih ya aku sama temen kelasnya aku punya komitmen mau kondisi susah gimanapun saat ujian gak ada yang curang, persaingan di kelas pun begitu terasa. Orang-orang yang seperti itu yang bakalan menuaikan hasil, banyak dari mereka sudah sukses. Terus kalian tuh ya kalo diskusi bertanya jawaban kelompok yang memaparkan gak sesuai dengan pemahamanmu lanjut sanggah sampai mengerti dan menemukan titik kejelasan buang jauh-jauh deh rasa suka gak enakkan sama temen. Melalui itu yang bakal ngebentuk kalian nanti". Nasihat sang dosen yang menatap kami satu persatu dengan tatapan penuh kasih sayang. 

Dibalik cerita pagi itu, kutemukan ternyata pagi itu menenangkan. Karena setiap pagi kita akan menemukan hal-hal baru. Entah sesuatu yang baru ditemui atau hal yang batu kemarin kita temui.
Pagi itu pun syukur. Karena setiap kita menutup kelopak mata di malam hari, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin kalau besok kelopak mata itu terbuka lagi.
Sungguh pagi itu pun misteri. Karena semua orang tidak akan tau bagaimana kejadian setelah pagi. Panas atau hujan, senang atau sedih, macet atau lancar. Semua tidak ada yang tau.
Dan pagi itu harapan. Karena semua orang memiliki asa untuk selalu lebih baik dari hari kemarin, sesuai hadits Rasullulah menjadi orang yang beruntung jika hari ini lebih baik dari kemarin
Bagiku pagi itu rindu. Karena semua orang yang terjaga pada malam hari selalu merindukan untuk bertemunya sinar sang mentari pagi. Begitupun juga aku yang selalu merindukan sosok hadirmu disetiap pagiku...

Palembang, 20 des 15
Jejak Melodi Mimpi


Jumat, 18 Desember 2015

Aku dan Pagi Itu

Pagi itu, baru lepas 5 menit UTS Konseling dan Psikoterapi. Sisa-sisa suasana UTS masih terasa tegang, meski sang dosen pun telah keluar meninggalkan kelas yang begitu ramai seperti kicauan-kicauan burung  yang mengisi ruangan coklat pada pagi itu. Ku lihat rerumputan hijau yang lagi asik bercengkrama dengan sinar mentari. Tatapan ku terfokus pada rerumputan hijau itu hingga aku pun terjebak memasuki ruang-ruang dimensi imajinasi. 
                               *****
Kepadamu  yang diam-diam hadir dalam mimpi. Setiap malam dalam benakku terfikirkan dirimu yang disana. Dirimu yang lancang bertamu di hampir setiap malamku yang sendu. Kau datang tanpa jemu merayu alam bawah sadarku. Tapi, aku mulai bertanya-tanya, siapa diri ini yang tiba-tiba saja rindu ? Rindu canda tawamu yang kukira hanya untukku. Senyuman yang tergaris simetris di sisi bibirmu itu selalu membuatku terpaku.

Aku mulai gugup tak menentu, apakah ini yang orang sebut akan merindu. Mendengar kabarmu sudah cukup bagi yang didera rindu. Memang tak selayaknya kuceritakan ini padamu, seorang perempuan yang sederhana dengan lancang menyebut namamu dalam doa. Sikap dan perangaimu yang memancarkan kebaikan tak bisa dielakkan lagi. Aku benar-benar terpaku.

Terkadang aku berfikir bagaimana menenggelamkanku dalam harapan semu. Sebab, tak mungkin perempuan yang serba kekurangan seperti diriku akan dapat seuntai senyuman darimu, apalagi perhatian, atau bahkan lebih jauh dari pada itu. Sungguh, bila itu kau lakukan padaku, ingin ku adukan pada Tuhan kalau hati ini telah berpaut padamu. Namun, dibalik aduanku itu, aku ingin Tuhan berikan petunjuk kepadaku, jika senyuman dan perhatianmu itu semu, aku takut menjadi manusia yang tertipu. Tertipu karena salah arti akan sikap, senyum maupun perhatianmu. 
                                 *****
"Tugas silahkan dikumpul" seru sang dosen klinis pada pagi itu.
Aku pun terbangun dari lamunan yang cukup lama, kira-kira 15 menit hingga bisa keluar dari jebakan itu. Ku lihat tas yang padat dengan buku-buku dan laptop didalamnya untuk mencari tugas psikologi klinis yang akan segera dikumpul. Perkuliahan pun dimulai, hingga sampailah ke salah satu percakapan yang menurut ku sangat menarik.
"Eh aku kan punya temen nih ya, S1 nya dia mengambil jurusan kedokteran, S2 nya dia mengambil S2 psikologi di UI. Tau gak dia nya sekarang profesinya apa? Guru." Awal cerita sang dosen dengan semangat dan serunya bercerita sambil memainkan kedua tangannya. Kami pun tertegun melihat ceritanya, entahlah apa yang berada dipikiran teman-teman yang berada di kelas pada siang itu. Terdengar di telingaku celotehan teman tepat duduk di samping sebelah kanan ku berkata seperti ini "itu benaran, jurusan udah bagus dan keren itu, masa ia mau jadi guru, gak sesuai profesi banget". Sang dosen pun mulai bercerita lagi dengan seru dan semangatnya "Namanya itu tia. Dia guru di sekolah alam Indonesia. Beberapa bulan yang lalu kami reunian di jakarta sekalian ada kegiata juga. Jadi kurang lebih perbincangan aku dan tia gini.......". 

Bersambung...

Palembang, 18 Des 2015
Jejak Melodi Mimpi

Kamis, 17 Desember 2015

Api di Penghujung Petang

"Akhirnya mau sampe kostan, mau ngerjain laporan, lanjut ngerjain proposal besok harus selesai bab 2 nih" gumamku dalam hati sambil melangkahkan kaki dan melewati butiran dedebuan jalan itu.
Setiba dikostan, "hmm rasanya nonton dulu aja ya, refreshing otak dulu sambil tiduran".
Malas baru saja menghampiriku dan amboinya kipas angin ini menggodaku untuk merebahkan diri ini. Aku merasa letih dengan semua rutinitas yang menghimpitku. Aku ingin pulang, teriak batinku. Tugas kuliah, proposal, laporan, ujian, amanah organisasi menumpuk di pundak. aku rindu hidup nyaman.. eits tiba-tiba tontonan film itu menayangkan kisah hidup seorang Reihan. Kisah orang pinggiran yang membuatku meneteskan air mata petang ini. Anak kecil ini harus menjalani hidup yang berat. Ia dan kedua adiknya tinggal bersama neneknya. Namun, yang membuatku semakin tak tega,neneknya mengalami gangguan jiwa. Masya Allah, berat sekali tanggung jawabmu, Nak.. Reihan harus berjalan dari satu desa ke desa yang lain untuk mengais sampah. Ya, mengais sampah. Anak usia SD ini terus berjalan demi menyambung hidup. Ia mengumpulkan sampah untuk membantu kehidupan sehari-hari dan untuk jajan kedua adiknya. Ia tak ingin adiknya merasakan apa yang ia alami. Subhanalllah, sungguh mulia hatimu.

Semakin banyak sampah yang ia dapat, semakin berat beban yang harus ia bawa di punggungnya. Namun, semakin banyak rupiah yang akan dia dapat. Semakin banyak? Seberapa banyak ?  5 kg sampah dihargai enam ribu rupiah. Perjuangan berkilo-kilo meter itu cuma E-N-A-M ribu rupiah. Buat beli bakso semangkuk pun tak cukup. Tapi Reihan tetap BERSYUKUR. Subhanallah..... kupandangi gadget di hadapanku, notebook, smartphone. Kuingat kembali berapa jumlah uang yang kuhabiskan. Masihkah aku tak mau bersyukur ? kerap kali rasa iri bersemayam dalam diri ini melihat si-A, si-B, si-C. Hidup mereka yang lebih mewah, beli ini-itu dengan mudah. Buku harga selangit pun bisa mereka beli. Batinku merengek, wajar mereka lebih berpengetahuan, apapun yang mereka cari bisa didapat dengan mudah. Seujung kukunya saja. Sekarang saatnya tengok Reihan, semangat hidup luar biasa, harus memulung tiap hari, tetapi ia tetap semangat sekolah. Letih tentu menghampirinya, tapi ia terus bergerak. Dia harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci pakaian. Dan ketika ada tetangga yang meminta bantuannya, tanpa jeda ia langsung melakukannya. Subhanallah...

Di sela-sela rutinitas ini, Reihan bak menamparku. Apa yang kulakukan ? menuntut ilmu pun merasa lelah? Banyak sekali kisah yang menyentuh hati, semoga saja kisah ini tidak hanya menyadarkan di detik ini saja.

Untuk Reihan, semoga Allah memberikan kekuatan luar biasa padamu dalam menjalani hidup. Sukses dunia dan akhirat untukmu. Terima kasih telah memberikan kobaran api petang ini. ^^
                                                                       
   
Palembang, 17 Desember 2015
                                                                                                               Jejak Mimpi

Sekilas tentang penjejak mimpi

            Namaku Nurul. Saya mahasiswi di salah satu perguruan tinggi, jurusan Psikologi Islam. Setiap kali bertemu temen dan orang baru pasti deh selalu ditanyain:
“kuliah dimana? jurusan apa?”
sebenarnya sih itu pertanyaan yang umum yang sering orang tanyain, “Psikologi Islam” Jawabku dengan nada yang bahagia, bangga, tapi tetep lembut haha...
“Ada ya Psikologi Islam? Apa bedanya jurusan Psikologi dan Psikologi Islam?” Tanyanya dengan mata agak sedikit melotot dengan ekspresi penasaran.
Ini pertanyaan yang udah sekian kali ditanyain sama aku, mungkin psikologi islam belum populer di kalangan umum kali ya, “Psikologi secara umum lebih menganalisis prilaku individu yang tampak secara konvensional berdasarkan teori-teori dalam dunia Psikologi. Sedangkan Psikologi Islam menganalisis prilaku yang tampak secara konvensional terlebih daluhu kemudian dianalisi kembali dengan pendekatan Al-Qur;an dan Hadist, sehingga muncul teori baru dalam dunia Psikologi Islam. Sebenarnya perbedaan tersebut bukan menjadi hal pemisalah, tetapi menjadi sebuah keindahan dalam hidup yang saling melengkapi".
Oke ini udah kepanjangan banget, udah jam berapa? Fokus perkenalan lagi ya..
            Saya anak sulung, perempuan. Saya mempunyai 2 orang adik perempuan dan 1 adik laki-laki, yang pertama jurusan teknik energi, kedua Kelas 7 SMP, dan yang terakhir kelas 2 SD. Untuk perempuan seumuranku, tidak ada yang spesial tentangku. Hobby ku sebenarnya banyak, yang paling utama itu berpetualang sambil jalan-jalan. Ibarat pribahasa Sambil menyelam minum air”. Kenapa aku suka berpetualang? Jawabannya suka banget dengan tantangan, apapun itu. Selain dapat tantangan, ada banyak makna dibalik pertualangan itu yang gak bisa aku dapatkan lewat kegemaranku yang lain. Saya bukan anak yang pintar, apalagi populer di kampus. Saya hanya kenal temen-teman seangkatan, beberapa adik tingkat, kaka tingkat, dan teman seperjuangan di organisasi kampus. Nilai IPK ku rata-rata.
            Saya hanya mempunyai beberapa sahabat karib yang 1 visi, 1 misi, dan 1 hobby. Ku telusuri jalan, kutemukan banyak orang didalamnya, dan sampailah aku dengannya, seorang sahabat baru. Sahabat tapi belum pernah bersua. Aku pun juga bingung dengan persahabatan ini. Apakah ketika berjumpa kita bisa sedekat ini? senyaman ini? tidak canggungkah? Entahlah, saat-saat itu selalu ku nantikan hingga waktu mempertemukan aku dan kamu.
            Hingga kini aku sangat bersyukur dengan keberadaan lingkaran cinta ini. Tetaplah menjadi seorang yang selalu kurindukan kehadiran kalian duhai sahabat-sahabatku. Bertemu dan mengenal kalian bukan sebuah kebetulan. Melalui menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun. Bukan sebuah kebetulan. Ada rekayasa Allah dibalik ini semua. Sadar atau tidak sadar. Menuju tahun ketiga kebersamaan kita melodi mimpi dan menuju tahun ke 5 duhai aagaban. Canda tawa, nestapa, ego, prasangka, menjadi bumbu perjalanan kita. Sahabatku, tak peduli kau anggap aku apa benalu? teman? saudara? keluarga? Atau orang lain yang tak sengaja singgah di perjalanan hidupmu.
Maafkan jika aku sudah terlajur mencintai kalian sebagai saudaraku, dan maaf jika aku belum mempu menjadi seperti yang  kalian mau.


            ***
           Saya adalah seorang penulis amatiran. Melalui blog Jejak Melodi Mimpi ini, saya akan berbagi terkait mimpi, perjalanan dalam hidup pribadi maupun lingkungan disekitar yang terbungkus dalam cerita pendek, puisi maupun opini. Harapannya semoga dengan tulisan yang tak begitu bermakna ini dapat menginspirasi, serta menambah wawasan pembaca karena saya akan banyak menulis fiksi dalam ranah psikologi didalamnya. 

                      Plg, 17 Des 15
                                                                                                                                           Jejak Mimpi