Selasa, 24 Januari 2017

benar memang, menjaga itu lebih sulit menjaga apapun itu. menjaga semangat misalnya.

butuh charge semangat dengan hal yang sederhana tapi sulit untuk diwujudkan, pulang.

apa aku harus cari cara lain untuk mengisi semangat biar full lagi? ah emng saat sperti ini internalizing problem lagi bener2 meningkat.

kata mereka kata 'lillah' bisa menguatkan. emang sih, tapi...

ayolah rul bangkit lagi, jangan jadi pejuang malas dengan banyaknya keluhan disana-sini.  Mimpi yang kau tulis, target yang kau tentukan, perlu digerakkan melalui doa dan ikhtiarmu. Semangat lagi ya 😊

aahh.. pengen pulang, itu saja.
langit yang gelap, awan yang sendu, angin yang berayun pelan menyapu dedebuan seakan mengerti bahwa aku ingin pulang.

Hujan kumohon turunlah, agar bisa kunikmati kehadiranmu. setidaknya aku bisa sedikit tenang bersamamu sore ini.

Jejak Mimpi

Minggu, 22 Januari 2017

Kuijinkan pena ini melangkah, mencurahkan segala isi hati dalam penantian panjang diperlintasan kereta kehidupan. Catatan sejarah dengan malu-malu menceritakan kisah perjuangan anak kampung. Terangkai dalam film orang-orang pengukir sejarah perubahan, melangkah dengan menggenapkan harapan menunaikan janji pada pipi keriput berlinang air mata. Di ruangan sempit ini, kuberanikan diri meniti senyum sebagai hak diriku yang takkan pernah terenggut oleh waktu, walau titah detik terus menari meninggalkan jejak mimpi namun ada sekilas kisah dalam kamus kehidupan yang mampu mengembangkan senyum perebahan.

Hidup dalam segala keterbatasan adalah keindahan yang tidak akan pernah dirasakan oleh orang lain, selama raga ini berprasangka baik terhadap apa yang menemani setiap tetes keringat. Keadilan yang takkan pernah tersuap, keadilan yang tidak sama tapi seimbang. Keadilan yang diberikan Allah akan selalu beriringan dengan kemampuan merubah masalah menjadi anugerah. Konsep peribadi penuh gairah, merubah, menelaah, menjamah, merumuskan hidup di sela-sela keterbatasan. Hidup ini terlalu indah untuk dihujani air mata. Maka carilah kebahagian yang hakiki!.

Cahaya sang fajar tidak akan pernah pelit untuk memberikan seberkas sinar, maka berbahagia menjalani terjalnya kehidupan karena di ujung gelapnya malam ada cahaya shubuh membangunkan mimpi buruk. Betapa banyak masalah yang terselesaikan. Betapa banyak jalan keluar yang menjamah setelah rasa putus asa yang berkepanjangan. Maka sungguh setelah kesusahan itu ada kebahagiaan menyelinap di balik sang fajar menyingsing. Barang siapa yang berani menggenggam tangkai yang berduri maka akhirnya ia dapat menuai harumnya mawar merah merekah. Manusia yang ingin mendapatkan emas murni, harus rela menggali lubang dengan mempertaruhkan nyawanya. Lalu, apa kita masih mengharap hujan uang dari langit tanpa mau sedikit berkorban mengeluarkan peluh?.

Banyak mata yang masih tenang terlelap di sela-sela meracaunya kehidupan. Setelah ini maka semua kembali pada diri, pemenang ataukah pecundang itu adalah sebuah pilihan. Ingat!. Maka silakan memilih, silahkan ridho dengan pilihan, silahkan berubah dengan bersyukur ataukah tetap egois dalam kekufuran yang melenakan.

Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Lalu ingatlah sabda Rasulullah saw:

“Kerjalah apa yang bermanfaat untukmu, dan mintalah pertolongan kepada Allah. Jangan mudah menyerah dan jangan pernah berkata, ‘Kalau saja aku melakukan yang begini pasti akan jadi begini.’ Tapi katakanlah ‘Allah telah mentakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti akan Dia lakukan’.”

Ini hidup. Ini perjuangan yang terangkai dalam jejak sang pemimpi. Bukan karena ada jiwamu tapi karena kerja keras beriring keikhlasan dalam menorehkan sejarah.

Seorang ulama salaf mengatakan: “Wahai anak Adam, hidupmu itu tiga hari saja: hari kemarin yang telah berlalu, hari esok yang belum datang, dan hari ini di mana Anda harus bertakwa kepada Allah!”

Maka raihlah takwa, mulailah menorehkan sejarah kebaikan yang akan selalu dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Hari ini milik kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan lengah dalam kungkungan waktu, karena perubahan itu takkan pernah terjadi tanpa langkah pertama. Mulailah dengan sebuah keyakinan, dengan menghilangkan masa lalu yang buruk untuk diingat.

Dalam sebuah kutipan Kitab La Tahzan:
Atsar yang berbunyi: Jika pagi tiba, janganlah menunggu sore; dan jika sore tiba, janganlah menunggu hingga waktu pagi, dapat pula diartikan bahwa kita harus membatasi angan-angan kita, menunggu ajal yang sewaktu-waktu menjemput kita, dan selalu berbuat baik. Jangan larut dalam kecemasan-kecemasan di luar hari ini. Kerahkan segala kemampuan untuk hari ini. Berbuatlah semaksimal mungkin, dan pusatkan konsentrasi Kita untuk melakukan sesuatu dengan cara meningkatkan kualitas moral, menjaga kesehatan, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Sekali lagi mulai torehkan sejarah hidup, jangan mau jadi nomor dua di pinggir bayang-bayang orang lain.

Plg, 7 Januari 2017
Jejak Mimpi
Di antara kerlingan kegelapan
menggambar titik air yang membasahi cakrawala
setiap tetesnya menjadi alunan musik tasbih cinta sang jejak mimpi
pada sang maha pemberi percikan cahaya kehidupan..

Gumpalan awan selalu tersenyum...
tatkala hujan kembali beranjak dari peristirahatannya...
seraya dia berakata "terimakasih tuhan aku ringan kembali"

Hamparan bumi bak mendapat kesejukan
semua menari mengikuti alunan suara hujan..
suara yang selalu menaruh sejuta makna dan rasa...
akan begitu besarnya kuasa Illahi...

Sang jejak mimpi menatap kegelapan...
kepingan air membasahi pipinya tak dia hiraukan...
dalam pikirnya hanya ada kuasa dan nikmat Tuhan...
karena hujan selalu memberikan kerinduan yang tiada terpendam...

Saat hujan mulai meraba dinginnya kehidupan...
sang penjejak akan selalu tetap disini..
menyentuh hujan...
sampai titik-titiknya kembali menghilang...
"inilah perjuangan"

Jejak Mimpi

Jumat, 13 Januari 2017

Perempuan sebagai pendamping yang baik adalah seperti cahaya. Dimanapun keberadaannya ia selalu ada, ia mampu menepi ketika terangnya terlalu menyilaukan atau seketika dibutuhkan ketika sedang berada dalam gelap.
Dan siapapun kamu nanti, sebagai pendampingmu, aku akan tetap bersinar didekatmu, memperhatikan dengan baik kadar cayahaku, menjaga dengan baik agar kamu mampu melihat jalan dalam gelap, tidur dengan cahaya yang nyaman atau mampu membaca meski malam telah larut.

Bersamamu, aku ingin menjadi cahaya dan untuk menjadi cahaya itu, aku memerlukan banyak waktu untuk bersiap. Aku perlu mempelajari banyak hal untuk memperhatikanmu dan anak kita nanti. Aku perlu memahami peranku dan belajar mengerti peranmu. Aku membutuhkan banyak waktu untuk memahami apa yang nanti disebut "kita" agar dapat terwujud "kita" yang saling memahami.

Pun sama dengan apa yang kamu lakukan saat ini. Ayo kita menyepakati, bahwa kita tidak akan membuang waktu kita dengan percuma.
Baik-baiklh disana. Aku dan kamu jangan selalu memikirkan "kita" hingga melupakan peran dalam keluarga dan orang-orang disekitar kita. Kata mereka, jangan selalu mengumbar rindu walaupun hanya dalam tulisan yang telah dibuat, sebab rindu tidak lagi manis ketika sudah terlalu banyak ditaburkan.

Simpan senyuman, dukungan, kepedulian dan keramahanmu kepada perempuan selain keluargamu, agar tidak banyak perempuan yang salah menerjemahkan kebaikanmu. Aku pun sama, melakukan hal yang sama, tapi saat ini aku bukan melakukannya karenamu, maaf, karena Allah masih dan selamanya menjadi prioritasku dalam urusan menjaga hati dan diri.

Sampai bertemu, kamu yang nantinya memiliki cahayaku :)

Jejak Mimpi

Rabu, 11 Januari 2017

Angin berhembus pelan memasuki sela-sela jendela kamar, membelai ujung mukenahku, merasuk ketulang, udara yang begitu menggigit, rasa kantuk bicara bahwa sedingin ini ternyata menahan rindu.

Beranjak dengan detakan suara ketukan kaki yang melangkah pasti, menahan dinginnya udara yang tersebar seperti virus yang cepat sekali menjalar, tuk menghangatkan bedan yang dirundung terpaan angin lembut yang merasuk di tubuh ini. Ku buka lemari; mengambil gelas dan serbukan kopi. Ku pikir tak ada salahnya sekali-kali menikmati secangkir kopi panas diberanda rumah ditemani matahari yang masih malu-malu menampakkan diri. Hanya butuh beberapa menit, kopi pun siap untuk dinikmati.

“Aaahh.. aku benar-benar tak suka kopi” Terang saja, kopi yang hangat tanpa pelengkap tak membuatnya begitu enak dirasa, pahit begitu sangat pahit. Gula tak ingin melengkapi kopi yang tengah kunikmati. Ia membiarkannya saja sendiri, tanpa peran darinya. Ternyata rindu itu pun seperti kopi, masih terasa sangat pahit. Jelas saja aku tidak suka rindu, walaupun sesekali aku menginginkannya. Saat ingin, pahit yang selalu terasa. Kapan aku merasakan kopi yang manis? Agar kata tak suka menjadi suka. Dan selalu ingin menikmati kopi.

Masih duduk diberanda rumah, menikmati kicauan burung yang saling bersahut-sahut merdu. Pikiran pun jauh melalang buana: ternyata rasa itu seperti angin. Kadang ia begitu kencang, sedang, lambat, lalu tiba-tiba hilang sendiri. Tapi ia pasti selalu ada. Begitupun juga dengan rasa kekhawatiranku padamu, Allah lah yang terkadang selalu menguatkan dibantu dengan pemahaman diri tentang kamu. Ku rasa itu hal yang wajar dimiliki manusia. Tapi, angin itu sudah hilang tak terasa, ia hanya berhembus sangat pelan. Karena bagaimanapun misteri tentang kamu yang masih dalam kemungkinan, akan selalu datang angin yang tanpa diminta. Hadirnya sebagai pelengkap.

Ku raih ponsel yang ada dalam saku jaket, jam 08.39. ini waktunya untuk segera bersiap melanjutkan perjuangan mimpi yang masih bekejaran dengan waktu. Sampai saatnya nanti, telah kuhabiskan ego dalam diri tentang mimpi yang ingin kuraih, tentang persiapan yang matang memahami peranku nanti tuk menjadi sebaik-baik cahaya untukmu yang bahagia didalam dua kehidupan, keluarga rabbani. Sekarang aku harus kembali berjuang, sampai waktu semakin sempit, jalan semakin dekat, yang akhirnya akan mempertemukan kita. Memang, banyak yang berkata bahwa pertemuan itu adaah ketika kita menatap langit yang sama. Tapi itu kata mereka, tidak denganku. Aku hanya mampu berkata semoga kita meyakini bahwa pertemuan itu akan terjadi walau mungkin membutuhkan waktu yang tepat. Ya, ibatat purnama. Hanya bisa dilihat pada saat tertentu. Namun jangan khawatir. Ketika datang, maka ia akan menyinari sudut-sudut gelap malam dengan penuh. Sama seperti rindu yang belum terarah ini. Kelak aku berharap rindu ini akan menggenapi setengah dinmu.


Jejak Mimpi

Jumat, 06 Januari 2017

Tulisan dan Doa: Obat Penenang

"Dia gimana kabarnya? Sekarang dia lagi sibuk apa? Lagi ngejer target terdekat apa? Apakah kondisinya sehat?"
Pertanyaan itu ingin sekali aku luncurkan dengan seorang yang ingin dituju, kamu.

Kamu yang masih dalam tanda tanya besar mimpiku.
Kamu yang seringkali muncul diingatanku
Kamu yang perkataannya hampir tidak pernah aku 'mentidakkannya'
Kamu yang mengajakku tuk jauh lebih baik
Kamu yang akan selalu aku butuhkan
Kamu yang selalu dengan penuh penerimaan
Kamu yang kadang tak peka, tapi selalu mencoba untuk mengerti
Kamu yang sedang berjuang mewujudkan mimpi-mimpimu
Kamu yang selalu belajar menjadi baik
Kamu yang begitu luas tuk di deskripsikan
Rasanya, jika menggambarkan sosok kamu. Selalu saja mengalir setiap kata, tak seperti saat disuruh nulis dalam waktu yang singkat dengan penentuan tema ini-itu.

Maafkan aku yang selalu mengumbar rindu dalam setiap kata yang tersusun rapi menjadi sebuah makna
Maafkan aku yang tak bisa menjaga rindu itu dengan baik
Rasanya ingin sekali, saat rindu itu datang aku menyimpannya dengan rapi di dalam laci-laci dan menguncinya rapat. Karena aku mengkhawatirkan semua orang memperhatikan rindukan yang dipersepsikan tidak pada tempatnya. Tapi aku ingin sekali menulis. Duh, gimana sih dengan diri ini? Apakah aku salah?

Sebaiknya hal yang sama untuk kamu lakulan disana, simpan rindumu dengan baik biar nanti saat bertemu kita membukanya bersama-sama. Bukankah itu mengasyikkan menghitung siapa yang memiliki rindu palig banyak? (Eh tapi, kamu sudah menyimpan rindumu dengan baik dan sangat rapi. Tunggu dulu, apakah seperti itu? Ah jangan-jangan ini hanya aku yang rindu, kamu tidak. Ternyata sesedih ini menghitung rindu hanya sendirian)

Pertanyaan itu pun akhirnya aku sampaikan ke penggenggam hati-Nya.
Dengan jawaban yang aku buat sendiri secara umum, "Aku yakin karenaMu yang memberi kekuatan, dan nikmat kesehatan. Dia pasti akan baik-baik saja, dengan apapun kondisi tubuhnya, dengan apapun permasalahan yang sedang dia hadapi, dengan targetan apapun yang sedang dia tuju, dia pasti bisa mengatasi semuanya, karena dia sosok laki-laki yang hebat. Jadi, aku tak usah perlu khawatir. Karena percaya dia mampu mengatasi semua yang ada pada dirinya, ia dia mampu.

Sekarang sudah tenang?
Yuk segera tuntaskan pekerjaanmu.

Plg, 6 Jan 17
Trimakasih Allah yang maha penenang, telah menaburkan butir-butir ketenangan dihati ini
Jejak Mimpi

Selasa, 03 Januari 2017

Postingan Pertama di 2017: OPTIMIS

Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

Seorang mukhlis akan senantiasa optimis dalam menghadapi masalah yang pelik dan berubi-tubi yang dihadapi, dan senantiasa melihat ada sebuah hikmah yang terkandung di atas manhaj yang benar.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu.(Q.S Al-Baqarah: 216)

Terkadang apa yang membuat hati kita tidak suka, kita akan menganggap itu adalah sebuah bencana yang mengerikan. Cobaan yang terus menghampiri, kelaparan yang berkepanjangan, pekerjaan yang melelahkan tidak pernah selesai, tugas-tugas yang menguras pikiran kita, semua itu menjadikan hati selalu berperasangka buruk. Abu Darda’ berkata: ada tiga hal yang sangat dibenci oleh orang-orang, namun aku justru menyukainya. Ketiga hal tersebut adalah: Aku suka kefakiran, sakit dan kematian. Mengapa? Karena kefakiran adalah ketenangan hati, sakit adalah pelebur dosa, dan kematian adalah pertemuan dengan Allah azza wajalla.

Di dalam kesempitan yang kita rasakan, selalu tersembunyi jalan keluar. Dalam kesedihan yang dihadapi, ada hal yang menggembirakan dari kesedihan itu sendiri. Dari ujian-ujian yang selalu datang seakan-akan adalah bencana, maka itu akan berubah menjadi sebuah kebaikan iman dan optimisme dari ujian yang dihadapi dengan hati yang ikhlas.

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami”. (Fathir: 34)

Sudah saatnya melebur tangis dengan bahagia, damaikanlah bola mata dengan optimisme bahwa segala yang kita inginkan akan tetap tercapai selama kita meyakininya. Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha mencapai apa yang dicita-citakan, tapi hasilnya semua kembali kepada Allah azza wajalla. Bukan sebuah kelaziman jika kita berkeluh kesah terhadap sebuah kegagalan, tapi jadikanlah kegagalan ada sebuah cermin sebagai guru untuk muhasabah di masa mendatang.

Allah azza wajalla yang menyibakkan subuh, menggerakkan gunung-gunung berjalan, meniupkan angin, menurunkan hujan yang menjadikan tumbuh-tumbuhan subur, Allahlah yang mengatur hidup dan kehidupan.

“Dan, malam ketika telah berlalu, dan shubuh apabila mulai terang” (Q.S Al-Muddatstsir: 33-34)

Malam akan tesibak, simpulkun akan terurai.
Yang takut mendaki gunung akan selamanya hidup dalam kubangan

Plg, 3 Jan 17
2017 banyak yang ingin diraih, aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin itu, ingin ini, banyak sekali. Semua semua semua dapat dikabulkan oleh Allah SWT. O.P.T.I.M.I.S Nuuyyy, banyak kebermanfaatan yang selalu dipertanyakan sekarang, nanti, dan selamanya 😇
Jejak Mimpi