Allah...
Fitrah ini menghampiriku kembali.
Perasaan ini, Terasa tak asing lagi bagiku.
Sederhananya, aku merasakan hal itu
Entah mengapa.
Terasa begitu tentram.
Terasa begitu teduh.
Hingga sulit rasanya untuk mengucapkan.
Bahwa aku sudah mengagumi Nya.
Aku jatuh cinta dengan keimananNya.
Aku jatuh cinta dengan ketaqwaanNya.
Aku jatuh cinta dengan cara berpikirNya.
Kebahagiaan tersendiri untukku.
Nama Nya tak henti-hentinya kusebut dalam do'aku.
Nama Nya selalu kubisikan dalam untaian harapku.
Nama Nya selalu kuagungkan atas karena Mu rabb dalam setiap sujudku.
Berharap sang Maha Cinta akan menyatukan kita dalam kebesaran Kuasa-Nya.
Dalam penantianku, kucurahkan segala harapku.
Kepada Sang Pemilik Hati yang memiliki hati Nya.
Anggap saja hal itu sebagai bukti bahwa, aku telah memilih Nya.
Namun.
Jika memang suatu saat nanti ia tidak bersamaku.
Tak apa.
Setidaknya aku pernah belajar arti sebuah penantian demi sebuah nama, Nama yang Allah Rahasiakan.
Setidaknya aku pernah merasakan manisnya berdoa dan berikhtiar untuk sebuah nama, Nama yang telah Allah Tuliskan.
Aku memang tidak tau sekenario Allah, tapi aku selalu yakin, Sekenario Allah itu selalu Baik.
Akankah menuai manisnya kebahagiaan.
Ataukah menumbuhkan pedihnya kehilangan.
Memang...
Aku tak tau apa yang akan terjadi, jika harapku bukan harapnya
Jika dia 'nanti' tak bersamaku
Apakah aku akan langsung kembali menjalani hidup atau...
Ah entahlah, apa yang sedang kini aku pikirkan?
Bukankah luka akan segera sembuh?
Bukankah yang pergi seharusnya diikhlaskan?
Hingga akhirnya takdir yang akan menuntun untuk belajar mengikhlaskan dari sebuah Harapan.
Karena Bagiku, Berharap dengan Cukup yang Satu, yaitu Engkau Allah..
Llg, 14 sept 16
Dalam perjuangan rindu yang belakangan ingin kuhapuskan. Dan aku tak mampu
Rabu, 14 September 2016
Minggu, 04 September 2016
Setiap nelpon ataupun pesan singkt pria tampanku itu pasti selalu punya kebiasaan baru yang selalu diucapkannya.
"Uni lagi apa?"
"Makan jangan telat terus"
"Mau masuk rumah sakit lagi?"
"jangan terlalu irit nak, ayah tahu betul jika kau sudah bertekad tentang sesuatu pasti selalu gigih untuk mewujudkannya, kalo pengen sesuatu belilah, kalo kurang ngomong, jangan lupa dengan kesehatanmu nak"
Saat ayah memanggil dengan sebutan 'nak' sungguh hati ikut berseru-seru dengan berbagai emosi di dalamnya, aku tau betul disaat seperti itu ada kasih sayangnya yang meluap-luap.
Ayaah...
Untuk pertama kalinya nanti, ingin sekali aku mengatakan bahwa putrimu ini mencintai pria lain selainmu yah.
Tapi aku takut, aku takut ayah marah.
Bagiku marah ayah seperti monster yang tak pernah aku kenal. Menyeramkan.. membuat aku tertunduk dan menyudut..
"Uni lagi apa?"
"Makan jangan telat terus"
"Mau masuk rumah sakit lagi?"
"jangan terlalu irit nak, ayah tahu betul jika kau sudah bertekad tentang sesuatu pasti selalu gigih untuk mewujudkannya, kalo pengen sesuatu belilah, kalo kurang ngomong, jangan lupa dengan kesehatanmu nak"
Saat ayah memanggil dengan sebutan 'nak' sungguh hati ikut berseru-seru dengan berbagai emosi di dalamnya, aku tau betul disaat seperti itu ada kasih sayangnya yang meluap-luap.
Ayaah...
Untuk pertama kalinya nanti, ingin sekali aku mengatakan bahwa putrimu ini mencintai pria lain selainmu yah.
Tapi aku takut, aku takut ayah marah.
Bagiku marah ayah seperti monster yang tak pernah aku kenal. Menyeramkan.. membuat aku tertunduk dan menyudut..
Langganan:
Komentar (Atom)



