Datangmu kemarin, ahh, kamu tahu apa tentangku?
Sehingga dengan berani mengajakku pada sesuatu yang… masih begitu jauh dari benakku.
Kita masih jauh dari sesuatu bernama saling mengenali.
Bagaimana kamu memberanikan diri mengajukan diri?
Hanya karena pertama kali melihatku saat mengambil gambarku untuk suatu keperluan kemarin, maafkan sungguh aku refleks berkata 'sudah rapi belum?' dan kamu menjawab 'maaf kalau disuruh liat nanti takut lama ngeliatnya' malu bukan main saat itu, tapi sungguh itu refleks
Atau mungkin karena jawabanku atas pertanyaan-pertanyaan kamu kemarin
kamu pun juga baru tahu sedikit tentangku dan tak banyak mendengar suaraku.
Seperti apa definisi cinta dikepalamu?
Seperti apa definisi jatuh hati di kepalamu?
Aku menyenangi niat baikmu.
Menghargai kamu yang sungguh berani memutuskan sesuatu yang kutahu pasti sulit untukmu.
Kamu…
Pemberani yang sungguh, namamu pun baru kukenali kemarin hari.
Terimakasih telah berani mengajakku menuju sesuatu yang… tentu saja Semesta menyukainya,
tetapi aku, kukira aku masih terlalu buruk untukmu..
Didepan sana, ada sesuatu yang harus kudapatkan.
Ada JANJI yang harus ku pertanggungjawabkan
Mungkin juga, ada seseorang yang tengah berjuang untuk menuju aku, pun sama aku juga lagi berjuang mempersiapkan peranku nantinya, menjadi cahayanya kelak dimasa depannya
Menjadikan ia PRIORITAS utamaku nantinya
Dan ada mimpi yang berkejaran dengan waktuku.
Semoga secepatnya kamu mendapatkan pendamping yang melebihi ekspektasimu.
Aku tahu hatimu tidak akan terluka, karena kemarin hari kamu tidak sedang jatuh cinta, kamu hanya berniat baik untuk membangun cinta.
Plg, 28 Des 16
Maaf
Dibawah naungan menara Masjid Agung
Rabu, 28 Desember 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar