Rabu, 11 Januari 2017

Angin berhembus pelan memasuki sela-sela jendela kamar, membelai ujung mukenahku, merasuk ketulang, udara yang begitu menggigit, rasa kantuk bicara bahwa sedingin ini ternyata menahan rindu.

Beranjak dengan detakan suara ketukan kaki yang melangkah pasti, menahan dinginnya udara yang tersebar seperti virus yang cepat sekali menjalar, tuk menghangatkan bedan yang dirundung terpaan angin lembut yang merasuk di tubuh ini. Ku buka lemari; mengambil gelas dan serbukan kopi. Ku pikir tak ada salahnya sekali-kali menikmati secangkir kopi panas diberanda rumah ditemani matahari yang masih malu-malu menampakkan diri. Hanya butuh beberapa menit, kopi pun siap untuk dinikmati.

“Aaahh.. aku benar-benar tak suka kopi” Terang saja, kopi yang hangat tanpa pelengkap tak membuatnya begitu enak dirasa, pahit begitu sangat pahit. Gula tak ingin melengkapi kopi yang tengah kunikmati. Ia membiarkannya saja sendiri, tanpa peran darinya. Ternyata rindu itu pun seperti kopi, masih terasa sangat pahit. Jelas saja aku tidak suka rindu, walaupun sesekali aku menginginkannya. Saat ingin, pahit yang selalu terasa. Kapan aku merasakan kopi yang manis? Agar kata tak suka menjadi suka. Dan selalu ingin menikmati kopi.

Masih duduk diberanda rumah, menikmati kicauan burung yang saling bersahut-sahut merdu. Pikiran pun jauh melalang buana: ternyata rasa itu seperti angin. Kadang ia begitu kencang, sedang, lambat, lalu tiba-tiba hilang sendiri. Tapi ia pasti selalu ada. Begitupun juga dengan rasa kekhawatiranku padamu, Allah lah yang terkadang selalu menguatkan dibantu dengan pemahaman diri tentang kamu. Ku rasa itu hal yang wajar dimiliki manusia. Tapi, angin itu sudah hilang tak terasa, ia hanya berhembus sangat pelan. Karena bagaimanapun misteri tentang kamu yang masih dalam kemungkinan, akan selalu datang angin yang tanpa diminta. Hadirnya sebagai pelengkap.

Ku raih ponsel yang ada dalam saku jaket, jam 08.39. ini waktunya untuk segera bersiap melanjutkan perjuangan mimpi yang masih bekejaran dengan waktu. Sampai saatnya nanti, telah kuhabiskan ego dalam diri tentang mimpi yang ingin kuraih, tentang persiapan yang matang memahami peranku nanti tuk menjadi sebaik-baik cahaya untukmu yang bahagia didalam dua kehidupan, keluarga rabbani. Sekarang aku harus kembali berjuang, sampai waktu semakin sempit, jalan semakin dekat, yang akhirnya akan mempertemukan kita. Memang, banyak yang berkata bahwa pertemuan itu adaah ketika kita menatap langit yang sama. Tapi itu kata mereka, tidak denganku. Aku hanya mampu berkata semoga kita meyakini bahwa pertemuan itu akan terjadi walau mungkin membutuhkan waktu yang tepat. Ya, ibatat purnama. Hanya bisa dilihat pada saat tertentu. Namun jangan khawatir. Ketika datang, maka ia akan menyinari sudut-sudut gelap malam dengan penuh. Sama seperti rindu yang belum terarah ini. Kelak aku berharap rindu ini akan menggenapi setengah dinmu.


Jejak Mimpi

0 komentar:

Posting Komentar