Angin
berhembus pelan memasuki sela-sela jendela kamar, membelai ujung mukenahku,
merasuk ketulang, udara yang begitu menggigit, rasa kantuk bicara bahwa
sedingin ini ternyata menahan rindu.
Beranjak
dengan detakan suara ketukan kaki yang melangkah pasti, menahan dinginnya udara
yang tersebar seperti virus yang cepat sekali menjalar, tuk menghangatkan bedan
yang dirundung terpaan angin lembut yang merasuk di tubuh ini. Ku buka
lemari; mengambil gelas dan serbukan kopi. Ku pikir tak ada salahnya sekali-kali
menikmati secangkir kopi panas diberanda rumah ditemani matahari yang masih malu-malu
menampakkan diri. Hanya butuh beberapa menit, kopi pun siap untuk dinikmati.
“Aaahh..
aku benar-benar tak suka kopi” Terang saja, kopi yang hangat tanpa pelengkap
tak membuatnya begitu enak dirasa, pahit begitu sangat pahit. Gula tak ingin
melengkapi kopi yang tengah kunikmati. Ia membiarkannya saja sendiri, tanpa
peran darinya. Ternyata rindu itu pun seperti kopi, masih terasa sangat pahit. Jelas
saja aku tidak suka rindu, walaupun sesekali aku menginginkannya. Saat ingin,
pahit yang selalu terasa. Kapan aku merasakan kopi yang manis? Agar kata tak
suka menjadi suka. Dan selalu ingin menikmati kopi.
Masih
duduk diberanda rumah, menikmati kicauan burung yang saling bersahut-sahut
merdu. Pikiran pun jauh melalang buana: ternyata rasa itu seperti angin. Kadang
ia begitu kencang, sedang, lambat, lalu tiba-tiba hilang sendiri. Tapi ia pasti
selalu ada. Begitupun juga dengan rasa kekhawatiranku padamu, Allah lah yang
terkadang selalu menguatkan dibantu dengan pemahaman diri tentang kamu. Ku rasa
itu hal yang wajar dimiliki manusia. Tapi, angin itu sudah hilang tak terasa,
ia hanya berhembus sangat pelan. Karena bagaimanapun misteri tentang kamu yang
masih dalam kemungkinan, akan selalu datang angin yang tanpa diminta. Hadirnya sebagai
pelengkap.
Ku
raih ponsel yang ada dalam saku jaket, jam 08.39. ini waktunya untuk segera
bersiap melanjutkan perjuangan mimpi yang masih bekejaran dengan waktu. Sampai saatnya
nanti, telah kuhabiskan ego dalam diri tentang mimpi yang ingin kuraih, tentang
persiapan yang matang memahami peranku nanti tuk menjadi sebaik-baik cahaya
untukmu yang bahagia didalam dua kehidupan, keluarga rabbani. Sekarang aku
harus kembali berjuang, sampai waktu semakin sempit, jalan semakin dekat, yang
akhirnya akan mempertemukan kita. Memang, banyak yang berkata bahwa pertemuan
itu adaah ketika kita menatap langit yang sama. Tapi itu kata mereka, tidak
denganku. Aku hanya mampu berkata semoga kita meyakini bahwa pertemuan itu akan
terjadi walau mungkin membutuhkan waktu yang tepat. Ya, ibatat purnama. Hanya bisa
dilihat pada saat tertentu. Namun jangan khawatir. Ketika datang, maka ia akan
menyinari sudut-sudut gelap malam dengan penuh. Sama seperti rindu yang belum
terarah ini. Kelak aku berharap rindu ini akan menggenapi setengah dinmu.
Jejak
Mimpi




0 komentar:
Posting Komentar