Minggu, 20 Desember 2015

Aku dan Mimpiku di Akhir Tahun 2015


          Bermimpilah, Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. (Arai -Sang Pemimpi)
          Maka     Nikmat Tuhan kamu mana lagi yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman)


"Mengikuti Lomba Karya Tulis dan Meraih Student Award di Tahun 2015". kalimat tersebut merupakan salah satu mimpi yang kuselipkan di antara kumpulan mimpi. Terlihat sangat sederhana. Tetapi itu target besar bagiku, karena selama hidupku belum pernah aku mengikuti lomba karya tulis yang bersifat penelitian. Meskipun info selalu datang menghampiri tapi untuk memulai terasa berat sekali. Oleh karena itu hal tersebut kutorehkan di awal semester 5 perkuliahanku. Walau di semester 4 pernah mencoba sekali ikut dan gagal. Pernah sempat pesimis, malas untuk mencoba lagi, tapi kupikir jika berhenti sampai disini semuanya bakal selesai mimpi itupun takkan terwujud. Jadi ku tempel tulisan motivasi di meja belajar "Gagal? Berjuang lagi nuruull!!! Karna sejatinya hidup ini berjuang lalu menantikan hasilnya sambil tetap berjuang", penyemangat di kala kepesimisan itu menyerang. 

Kesempatan itu datang juga, "Sayembara Esai Nasional" demikian bunyi kompetisi tersebut. Peserta diminta mengirimkan esai sesuai dengan tema dan subtema yang dituliskan dan akan diseleksi untuk ke tahap final. Esai ini tak ada berhubungan dengan jurusan ku sedikit pun, aku pun tak mempunyai pemahaman tentang tema yang dipaparkan di pamflet itu. Karena di dorong rasa ingin mencoba yang kuat sekali. akhirnya aku setiap hari ke pusda dan browsing terkai tema yang telah ditetapkan. Saat mengerjakannya itu, aku lagi berada di kampung halaman tepatnya masih dalam liburan semester. Lomba yang bertajuk "Moeslem Culture Fair" ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam di Universitas Negeri Jakarta. Sesuai mimpi yang kutuliskan "mengikuti lomba karya tulis" dan ini lomba sesuai mimpi yang kutuliskan “mengikuti lomba karya tulis” dan ini lomba karya tulis pertama yang kuikuti ditambah tingkat nasional pula, jadi aku tidak terlalu percaya diri untuk sampai tahap final. Setidaknya aku sudah mencoba. Menghabiskan jatah gagal, selalu itu yang kukatakan. Beruntungnya, aku mempunyai keluarga dan sahabat yang luar biasa membuat harapan itu melambung tinggi kelangit.

Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Esai ku lolos ke tahap final .Subhanallah.. Sampai di sini saja rasanya luar biasa. Esai kuyang berjudul “Konsep Pembelajaran PAI Berbasis SUNAN (Sopan santun, Toleransi, dan Peduli Lingkungan) dalam Cerpen (Cerita Pendek) untuk Meningkatkan Nilai Keindonesiaan di Kalangan Pelajar” memang tidak selamanya mendapat dukungan. Di satu sisi aku dihujani dukungan semangat dan do’a kesuksesan, tetapi di sisi lain ada yang mengecilkan ku. Memang tak ada sebuah perjalanan yang mulus. Aku yang mengirimkan karya tersebut pun mengalami olahraga jantung. Bagaimana tidak, file esainya hilang entah di save dimana, dan tinggal 2 jam lagi batas pengumpulan. Sebuah SMS di penghujung petang membawa kabar gembira. Aku berhasil lolos ke tahap final di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Pertengahan September 2015. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar..!

17 September 2015. Dengan pesawat Lion  Air aku terbang ke Jakarta. Jujur, ini pengalaman pertamaku naik burung besi tersebut. Aku begitu menikmati sensasi melayang di atas awan. Tak begitu lama, sekitar lima puluh menit saja. Aku tiba di Bandara Soekarno Hatta dan dengan dijemput Om beserta anak-anak dan istrinya, beliau adik kandung ibundaku. Karena ini perjalanan keduaku ke Pulau Jawa mataku tak mau terpejam sedikitpun. Kubiarkan mata ini terlena akan melihat hal-hal yang baru.

Malam pertamaku di Jakarta Timur, Ciputat dekat dengan UIN Syarif Hidatullah apalagi pasarnya dekat sekali. Sesampainya aku disana, aku sibuk mempersiapkan power point yang akan dipresentasikan senin nanti. Kurang persiapan memang, karena ini di luar prediksi aku bisa sampai ke tahap ini karena aku sibuk dengan tugas kuliah dan laporanku yang menumpuk. Jadi, aku putuskan malam itu juga harus selesai membuat power pointnya yang semenarik mungkin, aku tak suka dengan hal yang biasa-biasa saja, semua yang aku lakukan harus terlihat perfect, mungkin itu salah satu sifat buruk ku ya. Sampai tiba kira-kira di pukul 02.15 pagi, alarm tubuh ini pun berbunyi meminta waktunya untuk beristirahat, tapi semua pekerjaanku pun sudah selesai dan sedah beberapa kali latihan presentasi. Keesokan sore tepatnya hari minggu, aku pun pergi bersama om dan keluarganya menuju wisma UNJ. Aku pun dijemput dan dijamu bagai tamu besar disana. Kamar yang begitu nyaman dan kondusif buat latihan presentasi malam itu, berkali-kali aku pelajarin materi dan latihan presentasi hingga salah satu penitia yang tidur bersamaku malam itu terbangun dan menyuruhku untuk tidur, aku pun menolak ajakannya. Lagi, lagi dan lagi aku ingin semua yang aku lakukan terlihat perfect, walau sampai titik akhir alarm itu berbunyi lagi tepat menunjukkan pukul dua pagi. Hingga keesokan paginya wajahnku tidak terlihat segar, seperti wajah orang yang sangat keletihan.

19 September 2015. Hari H itu datang juga. Pagi-pagi sekali kami menuju kampus UNJ dengan berjalan kaki karena posisi gedung yang dipakai dekat sekali dengan wisma.. Di dalam perjalanan tersebut aku gunakan untuk mengenal para peserta. Menyenangkan sekali bertemu dengan orang-orang hebat dari penjuru Indonesia. Sambil mengobrol kami menikmati jalanan suasana kota Jakarta. Saat memasuki kampus UNJ. Ada getaran di hatiku. Assalmmu’alaikum UNJ. Pernah terbesit di hatiku: aku harus menginjakkan kaki di UNJ. Dan hari ini semuanya menjadi nyata. Gedung-gedung menjulang nan megah. Pemandangan yang asri. Inikah kampus sesungguhnya ? Presentasi dilakukan di gedung Sergur (Sertifikasi Guru). Ah, lagi-lagi aku terpesona. Ruangan yang besar dan nyaman. Kursi, papan tulis, lantainya pun berbeda. Subhanallah... beruntunglah mahasiswa yang kuliah di sini. Sungguh aku gugup sekali. Namun, aku harus tampak santai. Sambil menunggu acara dimulai, kami mengobrol ringan. Urutan yang tampil diundi oleh juri. Aku maju di urutan ke lima. Waktu yang disediakan adalah 10 menit dengan jumlah slide yang saya tampilkan adalah 8 slide. Ternyata aku menuntaskan persentasi tersebut dalam waktu DELAPAN menit saja. Wow, bayangkan betapa cepatnya aku berbicara ! 

Setelah itu disambung dengan sesi tanya jawab dengan dewan juri dan beberapa peserta audience yang hadir di ruangan itu. Sungguh aku tak menyangka, sesi tanya jawab mendapatkan antusias dari dewan juri dan audience yang berada diruangan itu, sampai-sampai panitia memperingatkan untuk cukup untuk bertanya. Alhamdulillah, pertanyaan itu bisa aku jawab. Penampilan dari peserta lain luar biasa keren. Serba inovatif dan kreatif. Ide-ide nya pun cukup membuat ku tidak terlalu berharap untuk menang. “aahh tak usah berharap, sudah bisa ke tahap ini saja alhamdulillah banget” gumamku dalam hati. Setelah usai penampilan persentasi dari 10 finalis, dilanjutkan dengan acara seminar nasional dan penampilan merawis dan nasyid yang sangat luar biasa.

Hingga tibalah saatnya pengumuman, kami pun dipersilahkan naik di podium merah itu. Sebelum pengumuman dimulai, panitia berbincang-bincang bersama kami. Aku salah satu peserta terjauh disana, diminta menjawab kesan pesannya untuk panitia dan menceritakan perjalanannya bisa sampai ke Jakarta. Dengan logat yang masih kental dengan kepalembang-palembangan walau sudah memakai bahasa indonesia yang menurutku sudah benar, ada beberapa audience dan juri tertawa mendengar dan melihatku berbicara, entah dari ceritaku atau logat palembangku hehe. Usai dari obrolan kecil itu, inilah saatnya pengumuman dimulai, disebutkan juara dari belakang terlebih dahulu, hingga tersisa 4 finalis lagi yang belum mendapatkan juara. “Ya Allah aku pun mendapat harapan I sudah sangat luar biasa” Jantungku berdegub tidak seperti biasanya. Dipanggilah Juara Harapan I oke ternyata bukan saya. Tak tahan menahan haru bahagia saat itu, spontan air mata keluar begitu saja. Saat namaku dipanggil dengan mendapatkan juara III aku pun langsung sujud syukur, pandangan yang lain tertuju padaku karena aku lah salah satu peserta yang menangis dan ekspresi yang berlebihan seperti ini, semua lepas dari kontrolku saat itu. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto-foto dan yang ada hanya senyum lebar. Begitulah petang itu mengakhiri rangkaian acara tersebut. Subhanallah,Alhamdulillah, Allahu Akbar.. Saat aku menulis mimpi hanya ingin ikut lomba karya tulis, Allah memberiku lebih dari itu, sebuah kemenangan dengan pengalaman luar biasa.

20 September 2015. Selamat pagi Jakarta. Ini adalah hari terakhir ku berada disini, karena tiket pesawat jam 4 sore aku harus menunggu. Aku pun dijemput kembali dengan om dan keluarganya, aku diajaknya berkeliling jakarta. Aku pun sudah memiliki buah tangan untuk kajur, wakidekan3, sahabat, dan keluarga ku di palembang. Waktu sudah menunjukkan pukul 2.30 aku pun diantar menuju bandara, dan ternyata pesawat delay. Oh Lord, lelah. Tak bisa kutahan kantukku. Sepanjang melayang di atas awan aku hanya tertidur. Hingga saat landing pesawatnya kaya ada guncangan, aku pun terbangun, terkejut, dan spontan berterik allahuakbar dengan kencangnya. Dua orang disampingku dan beberapa orang seberang tempat duduk kami melihatku dengan ketawa, betapa malunya aku saat itu. aku panik takut terjadi apa-apa hehe. Di Bendara aku ditunggu oleh Evan sepupu ku yang kuliah di palembang, keluarga ku pun dari lubbuklinggau pergi ke palembang untuk melihat kondisi anaknya ini, ya betapa tak khawatirnya mereka aku yang belum pernah naik pesawat, mengetahui mekanismenya, sera tak tahu jalan kota jakarta yang begitu amat luas. Pulang....... Hallo Palembang, Kembali bertemu lagi kabut asap L.!!! Sebuah perjalanan ilmiah di akhir tahun 2015.

Selepas dari sana bertubi-tubi nikmat Allah menghampiri, kemarin tepat tanggal 17 Desember 2015 aaku dipanggil segera menghadap wakil dekan 3. Jantungku pun berdegub, apa yang telah aku perbuat, ada apa sosok orang penting memanggilku yang tdak ada apa-apanya ini. ku ketuk pintunya, ku ucapkan salam, ku sampaikan maaf, hingga ia pun mempersilahkan ku duduk dan memberikan ku sebuah surat untuk wali murid untuk datang di acara Student Award dan apresiasi seni, ia aku masuk di list nama yang akan mendapatkan penganugrahan itu “Student Award” dengan berdasarkan IPK dan prestasi yang telah kuberikan terhadap kampus tercinta. Sungguh aku begini semua karena Allah. Seseorang yang tampak memukau dan berkilau, bukan antas kemampuan dirinya melainkan atas seizin-Nya dan atas karunia dari Allah. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan” (QS. Ar-Rahman). Ini kekuatan bermimpi. Allah bahkan memberi lebih dari yang kuiimpikan. Bermimpilah maka Allah akan memeluk mimpi-mimpi mu. Semangat para pejuang untuk apapun yang kita perjuangkan. Dan berikut cuplikan vidio yang ku dapatkan ketika SMA, dan awal aku mempercayai kekuatan mimpi itu.









Palembang, 20 Desember 2015
Jejak Melodi Mimpi

0 komentar:

Posting Komentar