Bermimpilah,
Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. (Arai -Sang Pemimpi)
Maka
Nikmat Tuhan kamu mana lagi yang kamu
dustakan? (QS. Ar-Rahman)
"Mengikuti
Lomba Karya Tulis dan Meraih Student Award di Tahun 2015". kalimat
tersebut merupakan salah satu mimpi yang kuselipkan di antara kumpulan mimpi.
Terlihat sangat sederhana. Tetapi itu target besar bagiku, karena selama
hidupku belum pernah aku mengikuti lomba karya tulis yang bersifat penelitian.
Meskipun info selalu datang menghampiri tapi untuk memulai terasa berat sekali.
Oleh karena itu hal tersebut kutorehkan di awal semester 5 perkuliahanku. Walau
di semester 4 pernah mencoba sekali ikut dan gagal. Pernah sempat pesimis,
malas untuk mencoba lagi, tapi kupikir jika berhenti sampai disini semuanya
bakal selesai mimpi itupun takkan terwujud. Jadi ku tempel tulisan motivasi di
meja belajar "Gagal? Berjuang lagi nuruull!!! Karna sejatinya hidup ini
berjuang lalu menantikan hasilnya sambil tetap berjuang", penyemangat di
kala kepesimisan itu menyerang.
Kesempatan itu datang juga, "Sayembara
Esai Nasional" demikian bunyi kompetisi tersebut. Peserta diminta
mengirimkan esai sesuai dengan tema dan subtema yang dituliskan dan akan
diseleksi untuk ke tahap final. Esai ini tak ada berhubungan dengan jurusan ku
sedikit pun, aku pun tak mempunyai pemahaman tentang tema yang dipaparkan di
pamflet itu. Karena di dorong rasa ingin mencoba yang kuat sekali. akhirnya aku
setiap hari ke pusda dan browsing terkai tema yang telah ditetapkan. Saat
mengerjakannya itu, aku lagi berada di kampung halaman tepatnya masih dalam
liburan semester. Lomba yang bertajuk "Moeslem Culture Fair"
ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam di
Universitas Negeri Jakarta. Sesuai mimpi yang kutuliskan "mengikuti lomba
karya tulis" dan ini lomba sesuai
mimpi yang kutuliskan “mengikuti lomba karya tulis” dan ini lomba karya tulis
pertama yang kuikuti ditambah tingkat nasional pula, jadi aku tidak terlalu
percaya diri untuk sampai tahap final. Setidaknya aku sudah mencoba.
Menghabiskan jatah gagal, selalu itu yang kukatakan. Beruntungnya, aku
mempunyai keluarga dan sahabat yang luar biasa membuat harapan itu melambung
tinggi kelangit.
Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Esai ku lolos ke tahap final .Subhanallah.. Sampai di sini saja rasanya
luar biasa. Esai kuyang berjudul “Konsep Pembelajaran PAI Berbasis SUNAN (Sopan
santun, Toleransi, dan Peduli Lingkungan) dalam Cerpen (Cerita Pendek) untuk
Meningkatkan Nilai Keindonesiaan di Kalangan Pelajar” memang tidak selamanya
mendapat dukungan. Di satu sisi aku dihujani dukungan semangat dan do’a
kesuksesan, tetapi di sisi lain ada yang mengecilkan ku. Memang tak ada sebuah
perjalanan yang mulus. Aku yang mengirimkan karya tersebut pun mengalami
olahraga jantung. Bagaimana tidak, file esainya hilang entah di save
dimana, dan tinggal 2 jam lagi batas pengumpulan. Sebuah SMS di penghujung
petang membawa kabar gembira. Aku berhasil lolos ke tahap final di Universitas Negeri
Jakarta (UNJ) Pertengahan September 2015. Subhanallah, Alhamdulillah,
Allahu Akbar..!
17 September 2015. Dengan
pesawat Lion Air aku
terbang ke Jakarta. Jujur, ini pengalaman pertamaku naik burung besi tersebut.
Aku begitu menikmati sensasi melayang di atas awan. Tak begitu lama, sekitar
lima puluh menit saja. Aku tiba di Bandara Soekarno Hatta dan dengan dijemput Om
beserta anak-anak dan istrinya, beliau adik kandung ibundaku. Karena ini
perjalanan keduaku ke Pulau Jawa mataku tak mau terpejam sedikitpun. Kubiarkan
mata ini terlena akan melihat hal-hal yang baru.
Malam pertamaku di Jakarta
Timur, Ciputat dekat dengan UIN Syarif Hidatullah apalagi pasarnya dekat
sekali. Sesampainya aku disana, aku sibuk mempersiapkan power point yang
akan dipresentasikan senin nanti. Kurang persiapan memang, karena ini di luar
prediksi aku bisa sampai ke tahap ini karena aku sibuk dengan tugas kuliah dan
laporanku yang menumpuk. Jadi, aku putuskan malam itu juga harus selesai
membuat power pointnya yang semenarik mungkin, aku tak suka dengan hal yang
biasa-biasa saja, semua yang aku lakukan harus terlihat perfect, mungkin
itu salah satu sifat buruk ku ya. Sampai tiba kira-kira di pukul 02.15 pagi,
alarm tubuh ini pun berbunyi meminta waktunya untuk beristirahat, tapi semua
pekerjaanku pun sudah selesai dan sedah beberapa kali latihan presentasi.
Keesokan sore tepatnya hari minggu, aku pun pergi bersama om dan keluarganya
menuju wisma UNJ. Aku pun dijemput dan dijamu bagai tamu besar disana. Kamar yang
begitu nyaman dan kondusif buat latihan presentasi malam itu, berkali-kali aku
pelajarin materi dan latihan presentasi hingga salah satu penitia yang tidur
bersamaku malam itu terbangun dan menyuruhku untuk tidur, aku pun menolak
ajakannya. Lagi, lagi dan lagi aku ingin semua yang aku lakukan terlihat perfect,
walau sampai titik akhir alarm itu berbunyi lagi tepat menunjukkan pukul dua
pagi. Hingga keesokan paginya wajahnku tidak terlihat segar, seperti wajah
orang yang sangat keletihan.
19 September 2015. Hari
H itu datang juga. Pagi-pagi sekali kami menuju kampus UNJ dengan berjalan kaki
karena posisi gedung yang dipakai dekat sekali dengan wisma.. Di dalam
perjalanan tersebut aku gunakan untuk mengenal para peserta. Menyenangkan
sekali bertemu dengan orang-orang hebat dari penjuru Indonesia. Sambil
mengobrol kami menikmati jalanan suasana kota Jakarta. Saat memasuki kampus UNJ.
Ada getaran di hatiku. Assalmmu’alaikum UNJ. Pernah terbesit
di hatiku: aku harus menginjakkan kaki di UNJ. Dan hari ini semuanya menjadi
nyata. Gedung-gedung menjulang nan megah. Pemandangan yang asri. Inikah kampus
sesungguhnya ? Presentasi dilakukan di gedung Sergur (Sertifikasi Guru). Ah,
lagi-lagi aku terpesona. Ruangan yang besar dan nyaman. Kursi, papan tulis,
lantainya pun berbeda. Subhanallah... beruntunglah mahasiswa yang
kuliah di sini. Sungguh aku gugup sekali. Namun, aku harus tampak santai.
Sambil menunggu acara dimulai, kami mengobrol ringan. Urutan yang tampil diundi
oleh juri. Aku maju di urutan ke lima. Waktu yang disediakan adalah 10 menit
dengan jumlah slide yang saya tampilkan adalah 8 slide. Ternyata aku
menuntaskan persentasi tersebut dalam waktu DELAPAN menit saja. Wow, bayangkan
betapa cepatnya aku berbicara !
Setelah itu disambung dengan sesi tanya jawab dengan dewan juri dan beberapa peserta audience yang hadir di ruangan itu. Sungguh aku tak menyangka, sesi tanya jawab mendapatkan antusias dari dewan juri dan audience yang berada diruangan itu, sampai-sampai panitia memperingatkan untuk cukup untuk bertanya. Alhamdulillah, pertanyaan itu bisa aku jawab. Penampilan dari peserta lain luar biasa keren. Serba inovatif dan kreatif. Ide-ide nya pun cukup membuat ku tidak terlalu berharap untuk menang. “aahh tak usah berharap, sudah bisa ke tahap ini saja alhamdulillah banget” gumamku dalam hati. Setelah usai penampilan persentasi dari 10 finalis, dilanjutkan dengan acara seminar nasional dan penampilan merawis dan nasyid yang sangat luar biasa.
Hingga tibalah saatnya pengumuman, kami pun dipersilahkan naik di podium
merah itu. Sebelum pengumuman dimulai, panitia berbincang-bincang bersama kami.
Aku salah satu peserta terjauh disana, diminta menjawab kesan pesannya untuk
panitia dan menceritakan perjalanannya bisa sampai ke Jakarta. Dengan logat
yang masih kental dengan kepalembang-palembangan walau sudah memakai bahasa
indonesia yang menurutku sudah benar, ada beberapa audience dan juri tertawa
mendengar dan melihatku berbicara, entah dari ceritaku atau logat palembangku
hehe. Usai dari obrolan kecil itu, inilah saatnya pengumuman dimulai,
disebutkan juara dari belakang terlebih dahulu, hingga tersisa 4 finalis lagi
yang belum mendapatkan juara. “Ya Allah aku pun mendapat harapan I sudah sangat
luar biasa” Jantungku berdegub tidak seperti biasanya. Dipanggilah Juara
Harapan I oke ternyata bukan saya. Tak tahan menahan haru bahagia saat itu,
spontan air mata keluar begitu saja. Saat namaku dipanggil dengan mendapatkan
juara III aku pun langsung sujud syukur, pandangan yang lain tertuju padaku
karena aku lah salah satu peserta yang menangis dan ekspresi yang berlebihan
seperti ini, semua lepas dari kontrolku saat itu. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto-foto dan
yang ada hanya senyum lebar. Begitulah petang itu mengakhiri rangkaian acara
tersebut. Subhanallah,Alhamdulillah, Allahu Akbar.. Saat aku menulis mimpi hanya ingin
ikut lomba karya tulis, Allah memberiku lebih dari itu, sebuah kemenangan
dengan pengalaman luar biasa.
20 September 2015. Selamat pagi Jakarta. Ini
adalah hari terakhir ku berada disini, karena tiket pesawat jam 4 sore aku
harus menunggu. Aku pun dijemput kembali dengan om dan keluarganya, aku
diajaknya berkeliling jakarta. Aku pun sudah memiliki buah tangan untuk kajur,
wakidekan3, sahabat, dan keluarga ku di palembang. Waktu sudah menunjukkan
pukul 2.30 aku pun diantar menuju bandara, dan ternyata pesawat delay. Oh Lord, lelah. Tak bisa kutahan kantukku. Sepanjang melayang di
atas awan aku hanya tertidur. Hingga saat landing pesawatnya kaya ada
guncangan, aku pun terbangun, terkejut, dan spontan berterik allahuakbar dengan
kencangnya. Dua orang disampingku dan beberapa orang seberang tempat duduk kami
melihatku dengan ketawa, betapa malunya aku saat itu. aku panik takut terjadi
apa-apa hehe. Di Bendara aku ditunggu oleh Evan sepupu ku yang kuliah di
palembang, keluarga ku pun dari lubbuklinggau pergi ke palembang untuk melihat
kondisi anaknya ini, ya betapa tak khawatirnya mereka aku yang belum pernah
naik pesawat, mengetahui mekanismenya, sera tak tahu jalan kota jakarta yang
begitu amat luas. Pulang....... Hallo Palembang, Kembali bertemu lagi kabut
asap L.!!! Sebuah perjalanan ilmiah
di akhir tahun 2015.
Selepas dari sana bertubi-tubi
nikmat Allah menghampiri, kemarin tepat tanggal 17 Desember 2015 aaku dipanggil
segera menghadap wakil dekan 3. Jantungku pun berdegub, apa yang telah aku
perbuat, ada apa sosok orang penting memanggilku yang tdak ada apa-apanya ini.
ku ketuk pintunya, ku ucapkan salam, ku sampaikan maaf, hingga ia pun
mempersilahkan ku duduk dan memberikan ku sebuah surat untuk wali murid untuk
datang di acara Student Award dan apresiasi seni, ia aku masuk di list
nama yang akan mendapatkan penganugrahan itu “Student Award” dengan
berdasarkan IPK dan prestasi yang telah kuberikan terhadap kampus tercinta. Sungguh aku begini semua karena Allah. Seseorang yang tampak memukau dan
berkilau, bukan antas kemampuan dirinya melainkan atas seizin-Nya dan atas
karunia dari Allah. Maka
nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan” (QS. Ar-Rahman). Ini
kekuatan bermimpi. Allah bahkan memberi lebih dari yang kuiimpikan. Bermimpilah
maka Allah akan memeluk mimpi-mimpi mu. Semangat para pejuang untuk apapun yang
kita perjuangkan. Dan berikut cuplikan vidio yang ku dapatkan ketika SMA, dan
awal aku mempercayai kekuatan mimpi itu.
Palembang, 20 Desember 2015
Jejak Melodi Mimpi




0 komentar:
Posting Komentar