Jumat, 18 Desember 2015

Aku dan Pagi Itu

Pagi itu, baru lepas 5 menit UTS Konseling dan Psikoterapi. Sisa-sisa suasana UTS masih terasa tegang, meski sang dosen pun telah keluar meninggalkan kelas yang begitu ramai seperti kicauan-kicauan burung  yang mengisi ruangan coklat pada pagi itu. Ku lihat rerumputan hijau yang lagi asik bercengkrama dengan sinar mentari. Tatapan ku terfokus pada rerumputan hijau itu hingga aku pun terjebak memasuki ruang-ruang dimensi imajinasi. 
                               *****
Kepadamu  yang diam-diam hadir dalam mimpi. Setiap malam dalam benakku terfikirkan dirimu yang disana. Dirimu yang lancang bertamu di hampir setiap malamku yang sendu. Kau datang tanpa jemu merayu alam bawah sadarku. Tapi, aku mulai bertanya-tanya, siapa diri ini yang tiba-tiba saja rindu ? Rindu canda tawamu yang kukira hanya untukku. Senyuman yang tergaris simetris di sisi bibirmu itu selalu membuatku terpaku.

Aku mulai gugup tak menentu, apakah ini yang orang sebut akan merindu. Mendengar kabarmu sudah cukup bagi yang didera rindu. Memang tak selayaknya kuceritakan ini padamu, seorang perempuan yang sederhana dengan lancang menyebut namamu dalam doa. Sikap dan perangaimu yang memancarkan kebaikan tak bisa dielakkan lagi. Aku benar-benar terpaku.

Terkadang aku berfikir bagaimana menenggelamkanku dalam harapan semu. Sebab, tak mungkin perempuan yang serba kekurangan seperti diriku akan dapat seuntai senyuman darimu, apalagi perhatian, atau bahkan lebih jauh dari pada itu. Sungguh, bila itu kau lakukan padaku, ingin ku adukan pada Tuhan kalau hati ini telah berpaut padamu. Namun, dibalik aduanku itu, aku ingin Tuhan berikan petunjuk kepadaku, jika senyuman dan perhatianmu itu semu, aku takut menjadi manusia yang tertipu. Tertipu karena salah arti akan sikap, senyum maupun perhatianmu. 
                                 *****
"Tugas silahkan dikumpul" seru sang dosen klinis pada pagi itu.
Aku pun terbangun dari lamunan yang cukup lama, kira-kira 15 menit hingga bisa keluar dari jebakan itu. Ku lihat tas yang padat dengan buku-buku dan laptop didalamnya untuk mencari tugas psikologi klinis yang akan segera dikumpul. Perkuliahan pun dimulai, hingga sampailah ke salah satu percakapan yang menurut ku sangat menarik.
"Eh aku kan punya temen nih ya, S1 nya dia mengambil jurusan kedokteran, S2 nya dia mengambil S2 psikologi di UI. Tau gak dia nya sekarang profesinya apa? Guru." Awal cerita sang dosen dengan semangat dan serunya bercerita sambil memainkan kedua tangannya. Kami pun tertegun melihat ceritanya, entahlah apa yang berada dipikiran teman-teman yang berada di kelas pada siang itu. Terdengar di telingaku celotehan teman tepat duduk di samping sebelah kanan ku berkata seperti ini "itu benaran, jurusan udah bagus dan keren itu, masa ia mau jadi guru, gak sesuai profesi banget". Sang dosen pun mulai bercerita lagi dengan seru dan semangatnya "Namanya itu tia. Dia guru di sekolah alam Indonesia. Beberapa bulan yang lalu kami reunian di jakarta sekalian ada kegiata juga. Jadi kurang lebih perbincangan aku dan tia gini.......". 

Bersambung...

Palembang, 18 Des 2015
Jejak Melodi Mimpi

0 komentar:

Posting Komentar