Ini lanjutan cerita kemarin yang belum usai.
"Eh emak-emak palembang ke jakarte lagi" sapaan sang teman dosen, tia.
"Iya, gimana lu sekarang?kerjaan?keluarga?" Jawab sang dosen dengan logat palembang yang masih kental.
"Udah 6 tahun di jakarta, balik palembang 3 tahun masih kental aja tuh palembangnya tak" sahut tia temennya etha. Namanya etha, ia adalah dosen psikologi klinis semester 5 ini. Aku adalah salah satu pengagum beratnya. Beruntungnya aku mendapatkan satu teman yang mengidolakannya juga. Namanya Yusika Fadilla. Anak Psikologi Islam, partnerr1 kost, dan tak 1 kelas. Setiap malam setelah mata kuliah buk etha kami selalu meluangkan waktu untuk membicarakan hal-hal yang terjadi di kelas tadi, baik itu mata kuliahnya, ceritanya, apapun itu selalu mempunyai sisi keilmuan di balik kata-kata yang keluar dimulutnya. Bu etha adalah dosen yang penuh misteri. Perkenalan pun hanya menyebutkan nama saja, semua kontak pribadi tidak boleh satu orang pun yang tau kecuali ketua kelas. Rasa penasaran itu pun tiba-tiba merasuk ke otak aku dan dia.
"Nurul wifi connect gak? Tanya yusika.
"Coba aja, mau ngapain?".
"Kita cari tentang bu etha, Rimas dian maretha, search google ok".
"Ok tampil nih, waah buk etha kuliah di UI S2 profesi psikolo klinis".
"Cari yang lain" Yusikka sibuk mengotak-atik keybord dan search google. Hingga kami terdampar di salah satu blog laki-laki bernama rimas, yang ternyata adik dari bu etha. Ia 3 bersaudara anak sulung, perempuan. Rimas adalah gabungan nama ayah dan ibunya. Tak sampai disana saja, rasa ingin tahu pun udah dibatas dosis tinggi. Setelah menunggu beberapa menit, sampailah ke situs web sang idola.
"Yusika kita kejauhan gak sih keponya?"
"Tenang aja enggak" yusika berusaha untuk meyakinkan ku.
Bu etha ternyata sudah menikah, kami memprediksikan awal tahun 2015 silam. Ia juga psikolog di beberapa biro ternama di palembang. Tak hanya sebatas bu etha saja yang kami kepoin, semua yang menyangkut dia, keluarganya, suaminya, dan teman-temannya. Oke kita lanjut lagi ke perbincangan sang dosen dan temannya tia. Tia pun langsung melanjutkan dan menjawab pertanyaan dari bu etha "keluarga gue baik ta. Ehh tau gak sih tha sekolah gue kan udah mau uas ni, datang salah satu wali murid bilang kaya gini "buk gimana nih anak aku gak mau disuruh belajar" keluhan sang wali murid.
"Tau gak lu tha gue jawab apa?" Tanya tia ke etha dengan penuh antusias untuk bercerita.
"Iya pasti lu kasih tips tuh ibuk buat ngajakin anaknya belajar lah" Jawab etha.
"Kagaak, jadi aku bilang gapapa lah buk kan wajib belajar 9 tahun, jadi masih banyak waktu buat belajar bukan? Terus dijawab wali murid gue gini tha iya juga ya buk, sambil mikir-mikir dia nya tha".
"Aah gila aja lu tia, bilang kaya gitu".
"Kamu tu yg gila tha, masa ia anak kecil 1 sd mau lu paksain buat belajar supaya nilainya bagus"
"Dia kan juga harus belajar tanggung jawab dia sebagai siswa dan anak tiaa"
"Anak kecil gitu mana tau tanggung jawab itu apa tha. Kamu tau gak tanggung jawab itu apa?".
Sang dosen pun diam dan tak melanjutkan ceritanya karena ingin bertanya kepada kami yang berada dikelas "kalian tau gak tanggung jawab itu apa?" Tanya sang dosen kepada penghuni kelas. Tiba-tiba aku spontan jawab aja dengan nada kerasnya "berusaha untuk melakukan setiap kewajibannya buuuk", entah itu jawaban yang tepat atau tidak. Sang dosen pun melanjutkan perbincangannya dengan sang teman tia.
"Eehh iya ya apa ya tanggung jawab haha".
"Nah lu aja lagi gak tau, apalagi anak yang masih kecil gitu tha. Lagian di sekolah alam itu lebih dibentuk akhlaknya bukan masalah nilainya tha".
Sang dosen pun menutup cerita perbincangannya, dan memberikan kami inspirasi dan pengetahuan baru pada pagi menjelang dzuhur waktu itu "Anak kecil SD itu waktunya bermain-main, tidak untuk selalu belajar. Coba kalian bayangkan waktu masih kecil inginnya selalu bermain bukan?disuruh belajar gak tahan dalam waktu lama bukan? Jadi nih ya kalo kamu udah punya anak jangan selalu paksa buat belajar, perkembangan anak umur segitu ya main terus jangan dipadatkan dengan belajar,belajar terus. Efekny ke masa perkembangan remaja karna tak terpenuhinya tugas perkembangan saat masih berusia 6 tahun sampai ia beranjak remaja. Lambat laun ia terus tumbuh menjadi remaja,hingga dewasa pasti sudah mengetahui arti tanggung jawab itu. Ya kalo mau nilai bagus ya belajar. Tapi tetap gak curang ya, yang dilihat tu bukan hasil tapi proses dan kejujurannya nak. Nilai tuh ya gak segala-galanya, contohnya nih ya aku sama temen kelasnya aku punya komitmen mau kondisi susah gimanapun saat ujian gak ada yang curang, persaingan di kelas pun begitu terasa. Orang-orang yang seperti itu yang bakalan menuaikan hasil, banyak dari mereka sudah sukses. Terus kalian tuh ya kalo diskusi bertanya jawaban kelompok yang memaparkan gak sesuai dengan pemahamanmu lanjut sanggah sampai mengerti dan menemukan titik kejelasan buang jauh-jauh deh rasa suka gak enakkan sama temen. Melalui itu yang bakal ngebentuk kalian nanti". Nasihat sang dosen yang menatap kami satu persatu dengan tatapan penuh kasih sayang.
Dibalik cerita pagi itu, kutemukan ternyata pagi itu menenangkan. Karena setiap pagi kita akan menemukan hal-hal baru. Entah sesuatu yang baru ditemui atau hal yang batu kemarin kita temui.
Pagi itu pun syukur. Karena setiap kita menutup kelopak mata di malam hari, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin kalau besok kelopak mata itu terbuka lagi.
Sungguh pagi itu pun misteri. Karena semua orang tidak akan tau bagaimana kejadian setelah pagi. Panas atau hujan, senang atau sedih, macet atau lancar. Semua tidak ada yang tau.
Dan pagi itu harapan. Karena semua orang memiliki asa untuk selalu lebih baik dari hari kemarin, sesuai hadits Rasullulah menjadi orang yang beruntung jika hari ini lebih baik dari kemarin
Bagiku pagi itu rindu. Karena semua orang yang terjaga pada malam hari selalu merindukan untuk bertemunya sinar sang mentari pagi. Begitupun juga aku yang selalu merindukan sosok hadirmu disetiap pagiku...
Palembang, 20 des 15
Jejak Melodi Mimpi




0 komentar:
Posting Komentar