Gadis itu pun berlalu meninggalkan wanita berambut merah keikal-ikalan. langkah kaki yang tergopoh-gopoh mengantarkannya menuju apartemen kembali. Trala melihat keadaan kamarnya yang begitu berantakan, posisi kursi yang tak beraturan, tempat tidur tak rapi, bekas serpihan kaca di ubin lantainya, serta jejak kaca jendela yang pecah. Ia bingung dengan terus menatap kondisi sekeliling kamarnya.
Trala terkejut melihat tangan sebelah kanannya diperban, dan menahan rintih kesakitan. Trala kembali bingung apa yang telah terjadi hari ini, ia melihat jam tangan yang menunjukkan waktu istiratnya untuk kembali terjaga dari gelapnya malam. Waktu begitu singkat baginya, terasa sebentar, dan trala pun sering sekali kehilangan waktunya.
tok...tok...tok... bunyi detakan detik jam di meja tidurnya, semakin keras bunyinya, dan semakin Trala terganggu dengan detikan jam itu. Trala melempar jam itu kembali, dan berdiri di dekat jendela kamarnya, lalu memecahkan kembali kaca kamar itu. Beruntungnya Trala hari ini tubuhnya tak tergores sedikitpun tidak seperti kemarin.
Pagi ini awan dan matahari bersahabat, menemani aktivitas Trala di pagi senin dan terdengar kicauan burung pun ikut menyambut pagi Trala. Trala berkuliah di sebuah Universitas yang berada di Amerika, mengambil konsentrasi Seni Melukis. Ia mahasiswi tingkat akhir sesepuh disana, yang belum-belum lulus. Didapatkan Trala lagi berusaha untuk melukis sesuatu, dan hasilnya gagal hanya sebuah coret-coretan. Trala tutup buku gambarnya, berlanjak berdiri, dan berjalan menuju gerbang kampusnya. Sebelum sampai ia di gerbang kampus, Trala bertemu dengan seorang Laki-laki tampan yang sedang menunggang kuda delmannya. Laki-laki itu pun berhenti, dan menghampiri wanita berkacamata berkucir satu ini.
"Haaii nyonya cantiik, Sudihkan dirimu memberi tahu saya siapa gerangan bidadari di depan ku ini?" Laki-laki tampan bertanya, dan mengulurkan kedua tangannya.
"Iya, Trala" Jawaban datarnya.
"Nama yang bagus bukan? Saya Wiliam. Duhai tuan putri, Sudihkan gerangan menunggang kuda delman ini bersamaku hari ini?" Pria tampan tertunduk dihadapannya, sambil menguurkan tangan kanannya untuk menyambut penerimaan sang tuan puti.
Trala berpikir lama, ia tak bisa, ia cemas, dan pada saat itu trala menjadi diri Rain, Karna Rain adalah putri yang cantik jelita, punya kekayaan dan bagian dari keluarga yang berada, selain itu Rain juga pandai melukis.
"Baik, ku terima ajakanmu kali ini tuan, trimakasih." Trala menyambut tangan sang tuan tampan, tersenyum manis, dan menaiki kuda deman itu.
Bersambung




0 komentar:
Posting Komentar