Selasa, 05 Januari 2016

Waktu jenuh 11 menit

Disaat kejenuhan itu menghampiri, ada saja yang aku lakukan entah itu mendengarkan musik, nonton stand up comedy, menyoret-nyoret kertas, ataupun membuat tulisan tak bermakna ya seperti malam ini. Meluangkan waktu 11 menit untuk meluapkan kejenuhan sebelum memulai lagi mengulang pelajaran yang akan di UAS-kan besok. Maaf ya ini lagi edisi galau ceritanya lagi baper gara-gara dengerin lagu yg melow-melow.hehe .. Hasilnya ini deh yang dibuat selama kurang lebih 11 menit, tapi ini ternyata lebih dari sebelas menit loh ya. Setelah buat tulisan diatas, nunggu loading, dan sebagainya hehe..
.
Tidak ingin ditanya, juga tak mau untuk bicara. Semua terasa tak berguna dan yang ada disekeliling hanyalah perasaan hampa. Hanya butuh diam tanpa ada suasana. Hanya butuh sendiri untuk menyendiri. Kelelahan hati dan fikiran benar-benar membuat semua tak bermakna.

Bagaimana mungkin seseorang memiliki tugas untuk mengurai kembali benang yang tak terkira jumlahnya dalam selembar kain sarung yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun bersusun, silang menyilang, timpa menimpa dengan rapi di sehelai kain sarung yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan nafasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh tetesan air matanya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentangan perasaan rindu yang tumbuh subur dalam rongga dada, menjamur, beranak pinak dan menjadi belukar.

Rindu itu menjadi rimba yang tak bisa dibersihkan lagi. Setiap lilitan semak belukar yang mengikat pohon, setiap akar tunggang yang menghujam ke bumi menjadi isyarat kuat dan dalamnya rindu ini.  Namun, ku tak menyangka kini, rindu yang menghujam dalam dan kuat melilit menjadi rindu yang kini jauh. Rindu yang jauh di purnama sana. Rindu bagai purnama yang berbentuk rongga-rongga lubang. Setiap lubang memiliki beberapa lubang dan beberapa lubang itu juga memiliki beberapa lubang lagi yang lebih kecil. Pilunya kerinduan ini bagaikan purnama kerinduan yang selalu dinanti setiap malam melalui detik demi detik, jam demi jam, tahun demi tahun sampai aku dipertemukan dengannya, cinta sejatiku....

Palembang, 05 januari 2016
Jejak mimpi

0 komentar:

Posting Komentar